Wajah Pelaku Tersorot Kamera, Namun Polisi Belum Tangkap Penyiram Air Keras ke Aktivis KontraS

Sekolapedia – 20 Maret 2026 | Jumat, 12 Maret 2026, aktivis KontraS Andrie Yunus menjadi korban penyiraman cairan keras di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Insiden tersebut terekam jelas oleh jaringan CCTV di sekitar kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dan beberapa titik jalan lainnya. Meskipun wajah dua eksekutor dapat dikenali, pihak kepolisian hingga kini belum berhasil menangkap mereka secara definitif.

Detail Penyelidikan

Polda Metro Jaya mengidentifikasi setidaknya empat orang yang terlibat dalam aksi tersebut. Dua di antaranya, berinisial BHC dan MAK, telah dipublikasikan secara terbuka dengan gambar berwarna merah dan hijau yang menandai posisi eksekutor pada rekaman. Analisis CCTV menunjukkan bahwa para tersangka mengikuti Andrie sejak meninggalkan kantor YLBHI pada pukul 23.22 WIB, bahkan sempat berhenti di SPBU Beraicik untuk mengamati gerakannya.

Sementara itu, Komandan Pusat Pengamanan (Puspom) TNI mengungkapkan bahwa empat anggota Denma BAIS TNI, dengan inisial NDP, SL, BHW, dan ES, juga masuk dalam daftar tersangka. Mereka berasal dari matra Angkatan Laut dan Angkatan Udara, dengan pangkat mulai dari Kapten hingga Letnan Satu. Kedua lembaga kini menjalankan penyelidikan paralel, namun belum menghasilkan penangkapan yang dapat dipublikasikan.

Faktor-faktor yang Menunda Penangkapan

  • Identifikasi yang masih bersifat preliminer: Meskipun wajah dua pelaku terlihat, proses verifikasi identitas resmi membutuhkan konfirmasi silang antara data kepolisian, catatan militer, dan saksi.
  • Kebutuhan bukti forensik: Tim investigasi masih menganalisis bukti ilmiah seperti jejak cairan keras, sidik jari, dan DNA yang diharapkan dapat mengaitkan pelaku secara konklusif.
  • Koordinasi lintas lembaga: Penyelidikan melibatkan Polri, TNI, dan unit intelijen lain. Penyelarasan informasi dan prosedur hukum antara institusi tersebut membutuhkan waktu.
  • Jumlah tersangka yang berpotensi lebih dari empat: Kedua pihak menyatakan kemungkinan adanya lebih banyak pelaku di balik aksi, sehingga fokus investigasi diperluas.
  • Pengumpulan keterangan saksi: Hingga kini, 15 saksi telah diwawancarai, namun masih diperlukan verifikasi silang untuk menghindari kesalahan identifikasi.

Koordinasi Antara Polri dan TNI

Polda Metro Jaya menekankan bahwa penyelidikan masih dalam tahap awal, dengan fokus pada analisis rekaman CCTV, bukti fisik, serta data intelijen. Sementara itu, Puspom TNI telah mengamankan empat tersangka militer dan tengah melakukan pendalaman motif serta kemungkinan keterlibatan jaringan lebih luas. Kedua lembaga sepakat membuka layanan pengaduan melalui hotline 110 dan nomor khusus 081285599191 untuk menerima informasi tambahan dari publik.

Langkah Selanjutnya

Polri berencana menyelesaikan analisis bukti ilmiah dalam beberapa minggu ke depan, termasuk visum et repertum di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Setelah itu, proses penetapan tersangka dan penangkapan akan dilanjutkan sesuai prosedur hukum. Puspom TNI juga akan mengirimkan laporan polisi terkait keempat anggota militer yang ditahan, serta mempertimbangkan tindakan disipliner internal.

Kasus ini menyoroti tantangan penegakan hukum dalam menghadapi aksi teror berbasis kekerasan kimia, terutama ketika pelaku berpotensi berasal dari institusi keamanan negara. Masyarakat diharapkan tetap waspada dan membantu penyelidikan melalui kanal resmi yang telah disediakan.

Post Comment