Sekolapedia – 16 Maret 2026 | Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Dyah Roro Esti, menegaskan komitmen pemerintah untuk memperluas kerja sama perdagangan dan investasi dengan tetangga strategis, Singapura dan Malaysia. Pertemuan bilateral tersebut berlangsung pada sela 32nd ASEAN Economic Ministers (AEM) Retreat di Taguig, Filipina, pada 13 Maret 2026. Dalam dua sesi terpisah, Roro Esti berbincang dengan Deputy Prime Minister sekaligus Menteri Perdagangan dan Industri Singapura, Gan Kim Yong, serta Deputy Minister of Investment, Trade, and Industry Malaysia, Sim Tze Tzin.
Dialog dengan Singapura menyoroti peningkatan nilai perdagangan bilateral yang signifikan. Selama lima tahun terakhir, nilai tukar barang antara Indonesia dan Singapura naik 14,6 persen, dari US$16,85 miliar pada 2020 menjadi US$19,32 miliar pada 2025. Peningkatan tersebut didorong oleh diversifikasi produk, terutama pada sektor teknologi, farmasi, dan barang manufaktur bernilai tambah tinggi. Roro Esti menekankan bahwa Indonesia bertekad untuk meningkatkan ekspor produk berteknologi tinggi, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada komoditas tradisional.
Selain itu, Indonesia menegaskan kembali komitmennya dalam proses aksesi ke Comprehensive and Progressive Agreement for Trans‑Pacific Partnership (CPTPP). Pemerintah menganggap CPTPP sebagai kerangka kerja modern yang dapat memperkuat integrasi ekonomi di kawasan Indo‑Pasifik dan membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk Indonesia. “Kami akan melanjutkan langkah‑langkah konkret untuk memenuhi persyaratan CPTPP, sekaligus memastikan bahwa aturan perdagangan yang berbasis aturan dapat meningkatkan daya saing industri nasional,” ujar Roro Esti.
Kerjasama dengan Malaysia: Memperkuat Konektivitas dan Nilai Tambah
Pertemuan dengan perwakilan Malaysia menyoroti total perdagangan bilateral yang mencapai US$24,22 miliar pada 2025. Kedua pihak sepakat untuk memperluas akses pasar melalui mekanisme Joint Trade and Investment Committee (JTIC) dan Malaysia‑Indonesia Investment Committee (MIIC). Diskusi juga mencakup pelaksanaan Border Trade Agreement (BTA) 2023 serta percepatan normalisasi perdagangan lintas batas di kawasan Entikong‑Tebedu, yang diharapkan dapat meningkatkan arus barang bernilai tambah di wilayah perbatasan.
Roro Esti menambahkan bahwa sektor agribisnis, energi terbarukan, serta industri kreatif menjadi prioritas dalam agenda kerja sama. Kedua negara berupaya mengoptimalkan potensi sumber daya alam masing‑masing, sambil memperkuat infrastruktur logistik dan digital untuk memperlancar aliran barang.
Inisiatif Regional: DEFA, RCEP, dan Transformasi Digital
Selama pertemuan, delegasi Indonesia juga menyoroti pentingnya memperkuat kerangka kerja regional seperti ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Kedua perjanjian tersebut dianggap sebagai landasan bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di kawasan. Indonesia mengajak Singapura dan Malaysia untuk berperan aktif dalam mengimplementasikan standar digital, keamanan siber, dan perlindungan data, yang menjadi prasyarat penting bagi perdagangan modern.
Upaya tersebut sejalan dengan agenda transformasi ekonomi nasional, yang menekankan pada peningkatan produktivitas, adopsi teknologi industri 4.0, serta pengembangan sumber daya manusia yang kompetitif di pasar global.
Secara keseluruhan, pertemuan bilateral ini mencerminkan strategi Indonesia untuk memperkuat jaringan perdagangan multilateral, sekaligus menyiapkan diri menghadapi tantangan global melalui diversifikasi produk, peningkatan nilai tambah, dan integrasi dalam perjanjian perdagangan berbasis aturan. Langkah‑langkah konkret yang diambil, mulai dari pembentukan komite bersama hingga aksesi CPTPP, diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih robust serta meningkatkan kesejahteraan bagi pelaku usaha dan konsumen di dalam negeri.



Post Comment