Pernah nggak sih kamu ngebayangin, lagi asyik-asyiknya persiapan Idul Fitri, eh tiba-tiba si kecil lahir ke dunia? Bahagianya double banget! Tapi di balik kebahagiaan itu, muncul satu pertanyaan teknis buat para ayah sebagai kepala rumah tangga: “Anak gue yang baru lahir ini perlu dizakatin nggak ya? Kan dia belum makan nasi, masih nenen doang?”
Nah, mari kita kupas pelan-pelan berdasarkan aturan main di fikih Islam yang sudah dirangkum dari sumber-sumber tepercaya.
Zakat Fitrah: Bukan Cuma Buat yang Udah Bisa Cari Duit
Pertama-tama, kita harus luruskan dulu konsepnya. Zakat fitrah itu beda sama zakat mal (harta). Kalau zakat mal itu urusannya sama saldo rekening, kalau zakat fitrah itu urusannya sama “jiwa” atau raga kita. Intinya, selama kita muslim dan masih bernapas di momen tertentu menjelang Idul Fitri, kita punya kewajiban untuk mensucikan diri lewat zakat fitrah.
Jadi, mau kamu masih bayi mungil yang kerjanya cuma tidur, atau sudah kakek-kakek yang hobinya main burung, selama statusnya Muslim, kewajiban itu ada. Hal ini berdasarkan hadis dari Abdullah bin Umar yang bilang kalau Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah buat semua orang: hamba sahaya, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil, sampai orang dewasa. Semuanya “all-in”.
Karena si bayi ini belum bisa cari duit sendiri (ya iyalah!), maka kewajibannya pindah ke pundak ayahnya atau wali yang menafkahinya. Jadi, ayah, siap-siap ya, budget berasnya ditambah sedikit buat si kecil!
Kapan “Deadline” Kelahiran yang Bikin Bayi Wajib Zakat?
Ini adalah bagian paling krusial. Kapan seorang bayi dianggap “wajib” bayar zakat fitrah? Apakah kalau lahirnya pas Idul Fitri masih wajib?
Kuncinya ada di waktu terbenamnya matahari pada hari terakhir bulan Ramadan. Dalam fikih, ini namanya waktu wajib. Mari kita simulasikan supaya gampang:
- Skenario A (Wajib Zakat): Misalnya, hari ini adalah hari terakhir puasa. Magrib jam 18.00. Nah, si dedek bayi lahir jam 17.30 (sebelum buka puasa terakhir). Karena dia sempat “menangi” atau menjumpai sebagian waktu Ramadan dan menjumpai awal malam Idul Fitri, maka si bayi ini wajib dizakatkan.
- Skenario B (Tidak Wajib Zakat): Lagi-lagi Magrib jam 18.00. Eh, si dedek baru lahir jam 18.05 pas orang-orang lagi teriak “Allahu Akbar” takbiran. Karena dia lahirnya sudah masuk tanggal 1 Syawal dan nggak sempat “hidup” di bulan Ramadan, maka dia tidak wajib bayar zakat fitrah untuk tahun tersebut.
- Skenario C (Abu-abu/Ragu): Kalau lahirnya pas banget adzan Magrib sampai bidannya pun bingung ini tadi sebelum atau sesudah matahari terbenam, menurut Syekh Sulaiman al-Bujairimi, kalau ragu-ragu begitu, hukumnya jadi tidak wajib. Islam itu memudahkan, kok!
baca juga:Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia Juara Nasional Lomba Karya Ilmiah RnDC 2025
Bagaimana dengan Janin yang Masih di Perut?
Banyak juga nih calon mama yang nanya, “Anakku di perut udah nendang-nendang terus, perlu dizakatin nggak?”
Mayoritas ulama (Jumhur Ulama) sepakat kalau bayi yang masih di dalam kandungan itu belum wajib dizakatkan. Kenapa? Karena dia belum dianggap sebagai manusia yang hidup secara sempurna di alam dunia. Tapi, kalau ayah dan bunda tetap ingin mengeluarkan zakat buat si janin, boleh nggak? Boleh banget! Hitungannya jadi sedekah sunnah, bukan zakat fitrah yang wajib. Hitung-hitung buat nambah pahala dan doa supaya persalinannya lancar.
Berapa Sih “Mahar” Zakatnya?
Nggak usah pusing sama hitungan rumit. Kadar zakat buat bayi itu persis sama kayak orang dewasa. Nggak ada diskon buat bayi meskipun makannya sedikit.
Ukurannya adalah satu sha’ makanan pokok. Kalau dikonversi ke timbangan kita sekarang, itu sekitar 2,5 kg sampai 3 kg beras. Pastikan beras yang dikasih adalah beras yang biasa dimakan keluarga sehari-hari ya. Jangan sampai kita makan beras premium, tapi buat zakat carinya yang paling murah. Hehehe.
Kalau di beberapa tempat, ada yang membolehkan pakai uang (sesuai harga beras tersebut), itu juga sah-sah saja asalkan mengikuti aturan yang ditetapkan lembaga zakat setempat seperti Baznas.
Kenapa Sih Bayi Aja Harus Dizakatin?
Mungkin ada yang mikir, “Duh, cari duit lagi susah, bayi lahir aja udah banyak biaya, masa harus zakat lagi?”
Eits, jangan salah sangka. Zakat fitrah itu fungsinya keren banget:
- Pembersih Diri: Buat kita yang dewasa, zakat itu membersihkan dosa-dosa kecil selama puasa. Buat bayi, ini adalah bentuk syukur atas kehadirannya.
- Makan-makan Buat Orang Miskin: Idul Fitri itu hari bahagia. Islam pengen semua orang, termasuk yang kekurangan, bisa makan enak di hari itu. Zakat si kecil tadi bakal membantu satu keluarga fakir miskin untuk bisa makan nasi yang layak di hari lebaran. Indah banget, kan?
baca juga:Dosen Universitas Teknokrat Indonesia Raih Hibah Pengembangan Modul Digital dari Kemendiktisaintek
Kesimpulan
Jadi, buat para orang tua baru atau yang lagi nunggu HPL (Hari Perkiraan Lahir) di akhir Ramadan, kuncinya cuma satu: Perhatikan jam lahirnya.
- Lahir sebelum Magrib malam takbiran = Siapkan berasnya!
- Lahir setelah Magrib malam takbiran = Simpan buat tahun depan!
Zakat fitrah ini adalah cara Islam mengajarkan kita untuk peduli sejak dini. Bayi yang baru lahir pun sudah diajarkan (lewat orang tuanya) untuk berbagi kepada sesama.
Semoga si kecil jadi anak yang sholeh/sholehah, murah rezeki, dan selalu membawa keberkahan buat keluarg:a. Selamat menyambut Idul Fitri dan selamat menunaikan kewajiban zakat ya, Ayah dan Bunda!
penulis:rinaldy



Post Comment