Sekitar 1.500 orang berkumpul di pusat kota Malmö pada Minggu sore untuk memperingati Hari Perempuan Internasional. Aksi ini menyoroti berbagai isu penting, mulai dari perjuangan hak perempuan hingga kebijakan migrasi.
Dilansir dari Sydsvenskan, para peserta membawa berbagai poster dan slogan yang menyinggung banyak persoalan, seperti pemotongan anggaran kesehatan hingga konflik di Timur Tengah. Tahun ini, demonstrasi di Malmö, Swedia, mengangkat tema utama “feminis melawan fasis.”
Maria Hofvander, warga Malmö yang ikut berunjuk rasa bersama putrinya, Lovisa Hofvander, mengatakan bahwa isu kesetaraan gender kini semakin jarang mendapat perhatian dalam perdebatan politik.
Baca juga:Cek Jadwal Adzan Maghrib Deli Serdang Hari Ini Sabtu 28 Februari 2026, Sudah Waktunya Nih
“Isu kesetaraan sudah semakin tersisih dalam diskusi politik,” ujar Maria.
Ia juga menekankan bahwa hak-hak perempuan perlu terus diperjuangkan, terutama di tengah meningkatnya arus populisme sayap kanan dan penolakan terhadap hak aborsi. Lovisa menambahkan bahwa masyarakat saat ini masih belum benar-benar mencapai kondisi yang setara.
Peserta lain, Albert De Bobes, menyoroti masih adanya kesenjangan upah serta kekerasan terhadap perempuan. Menurutnya, peningkatan gaji bagi pekerja di sektor kesejahteraan—seperti guru dan perawat—bisa menjadi langkah awal yang penting untuk memperbaiki situasi.
“Perempuan banyak bekerja di rumah sakit atau sebagai guru,” kata Albert De Bobes, yang sebelumnya bekerja sebagai insinyur.
Sementara itu, Thea, seorang aktivis dari Lund, menilai perempuan muda perlu lebih berani tampil di ruang publik. Ia melihat aksi demonstrasi seperti ini sebagai ruang penting bagi mereka untuk menyampaikan aspirasi secara langsung.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Partai Kiri dan ABF, dimulai dengan pidato di patung Arbetets ära. Beberapa organisasi turut berpartisipasi, termasuk Barnmorskeförbundet, Iran Protest Skåne, dan Partai Kiri Malmö.
Dalam orasinya, Nina Jakku, anggota dewan kota dari Partai Kiri, mengkritik kebijakan pemerintah yang menurutnya tidak manusiawi. Ia menilai kebijakan tersebut berpotensi merugikan kelompok perempuan pekerja.
“Di Malmö, semua orang seharusnya diterima dan bisa menjalani kehidupan yang baik serta aman,” ujar Nina Jakku.
Ia juga mencatat bahwa minat masyarakat untuk memperingati Hari Perempuan terus meningkat setiap tahun. Saat ini, fokus perjuangan tidak hanya pada kesetaraan secara umum, tetapi juga pada layanan kesehatan dan kebijakan deportasi.
Data Kesetaraan Gender di Swedia
Menurut data dari Jämställdhetsmyndigheten, sebagian besar masyarakat Swedia percaya bahwa kesetaraan gender memberikan dampak positif bagi ekonomi dan kesehatan masyarakat. Meski begitu, terdapat perbedaan pandangan antara pria dan wanita.
Baca juga:Contoh Soal UKG SD Lengkap: Persiapan Jitu Guru Menghadapi Uji Kompetensi
Survei menunjukkan lebih banyak pria yang merasa Swedia sudah mencapai kesetaraan gender dibandingkan wanita. Perbedaan pandangan ini paling terlihat pada kelompok generasi muda.
Hari Perempuan Internasional sendiri telah diakui secara resmi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak tahun 1977. Sementara itu, tanggal 8 Maret pertama kali ditetapkan sebagai hari peringatan dalam konferensi perempuan yang digelar di Moskow pada tahun 1921.
penulis:putra


Post Comment