Tensta Rayakan Hari Perempuan Internasional dengan Seruan Kesetaraan

Peringatan Hari Perempuan Internasional berlangsung meriah di kawasan Tensta, Swedia, pada 8 Maret 2026. Kegiatan digelar di Tensta Centrum dan kemudian berlanjut ke Blå Huset, menghadirkan berbagai aktivitas yang menyoroti isu kesetaraan gender.

Acara ini dipandu oleh Esme Güler, yang menegaskan bahwa peringatan Hari Perempuan masih sangat relevan karena ketimpangan gender masih terjadi di banyak tempat di dunia.

baca juga:Panas! Konflik AS-Iran Bikin Toyota, Hyundai, sampai Chery Pusing Tujuh Keliling: Begini Dampaknya Buat Dunia Otomotif

Menurutnya, masih banyak orang yang mempertanyakan mengapa hari seperti ini perlu diperingati. Namun jawabannya sederhana: peringatan ini tetap dibutuhkan karena perempuan hingga kini belum sepenuhnya mendapatkan kesetaraan.

Ia juga menyoroti masalah kesenjangan upah, di mana perempuan masih sering menerima penghasilan lebih rendah dibandingkan laki-laki meskipun melakukan pekerjaan yang sama. Karena itu, perjuangan kesetaraan tidak hanya menyangkut ekonomi, tetapi juga keamanan dan hak asasi manusia.

🔖 Baca juga:
Kumpulan Contoh Soal Diagram Gaya dan Cara Menyusunnya

Acara tersebut juga menjadi momen untuk menghormati para aktivis perempuan yang sejak dulu telah memperjuangkan perubahan sosial dan membuka jalan menuju masyarakat yang lebih adil bagi semua gender.

Ketua Tensta-Hjulsta Women’s Center, Hero Rashid, menekankan pentingnya kerja sama dan pengorganisasian komunitas. Lembaga yang dipimpinnya berfokus memberikan bantuan hukum kepada perempuan yang menghadapi kesulitan, terutama dalam proses beradaptasi dengan kehidupan di masyarakat baru.

baca juga:Dosen dan Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia Kampus Terbaik di Lampung Raih Penghargaan Paten Kemenkum RI atas Inovasi Komposter Cerdas

Hero Rashid mengatakan banyak perempuan datang mencari bantuan, dan lembaganya berusaha memberikan dukungan hukum bagi mereka yang membutuhkan. Ia juga menegaskan bahwa perjuangan hak perempuan tidak akan terjadi dengan sendirinya, tetapi harus diperjuangkan bersama.

Sementara itu, Ann‑Margarethe Livh dari Hyresgästföreningen Järva mengingat kembali berbagai pencapaian gerakan perempuan sejak tahun 1970-an di Swedia. Beberapa di antaranya adalah keberhasilan memperjuangkan akses penitipan anak serta hak aborsi yang legal.

Meski begitu, Livh juga mengingatkan bahwa kemajuan tersebut tetap bisa mengalami kemunduran. Ia menilai situasi global yang penuh konflik membuat hak-hak perempuan kembali menghadapi berbagai ancaman.

Menurutnya, dalam banyak konflik di dunia, perempuan dan anak-anak sering menjadi pihak yang paling terdampak. Mereka kerap harus menanggung dampak dari perang yang terjadi.

Rangkaian acara peringatan ini kemudian ditutup dengan berbagai pertunjukan seni, seperti pembacaan puisi, peragaan busana, hingga tarian yang berlangsung hingga sore hari.

penulis:putra

Post Comment