Donald Trump Berencana Kunjungi China Bahas Perang Iran dan Tarif

Rencana pertemuan tingkat tinggi antara pemimpin Amerika Serikat dan China sedang dipersiapkan. Pertemuan ini diproyeksikan membahas sejumlah isu penting, termasuk konflik di Iran serta kebijakan tarif perdagangan antara kedua negara.

Diplomat utama China, Wang Yi, mengonfirmasi bahwa agenda pertemuan antara pemimpin kedua negara sudah memasuki tahap pembahasan yang cukup serius. Tujuannya adalah untuk memperkuat komunikasi dan kerja sama bilateral.

Menurut Wang Yi, kedua pihak kini perlu melakukan berbagai persiapan agar pertemuan tersebut berjalan lancar.

baca juga:Mengintip Persiapan Proktor MTsN 2 Bantul: Kupas Tuntas Integrasi TKA dan Asesmen Nasional 2026 yang Bikin Efisien!

Ia menekankan bahwa kedua negara harus menyiapkan lingkungan yang kondusif, mengelola berbagai risiko yang ada, serta menghindari gangguan yang tidak perlu agar dialog dapat berlangsung efektif.

🔖 Baca juga:
Latihan Soal Komunikasi Terapeutik Bentuk Essay: Materi Teknik, Tahapan, dan Evaluasi Interaksi

Langkah ini dinilai penting untuk mencegah kesalahpahaman maupun kesalahan perhitungan yang bisa memicu ketegangan global. Wang Yi juga menegaskan bahwa konfrontasi antara dua kekuatan besar dunia hanya akan berdampak buruk bagi stabilitas internasional.

Sebelumnya, Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump sempat memberi sinyal untuk saling melakukan kunjungan setelah pertemuan langsung mereka di Korea Selatan pada musim gugur tahun lalu.

Trump sendiri dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke China pada 31 Maret hingga 2 April 2026. Jika terlaksana, kunjungan ini akan menjadi lawatan pertama presiden AS yang sedang menjabat ke China sejak tahun 2017.

Meski demikian, pihak berwenang di Beijing sampai sekarang belum memberikan konfirmasi resmi terkait tanggal pasti kunjungan tersebut. Wang Yi menilai komunikasi langsung antara kedua pemimpin menjadi jaminan strategis bagi stabilitas hubungan kedua negara.

Sejumlah analis juga menilai jadwal perjalanan ini masih menyimpan ketidakpastian. Hal itu dipicu oleh meningkatnya ketegangan setelah serangan gabungan AS dan Israel ke Iran yang menewaskan pemimpin tertinggi negara tersebut, Ali Khamenei, pada 28 Februari.

Dalam beberapa kesempatan, Wang Yi terus menyerukan gencatan senjata terkait konflik Iran tanpa menyebut pihak tertentu secara langsung. Ia menegaskan bahwa perang tersebut tidak akan memberikan keuntungan bagi siapa pun.

baca juga:Mahasiswa Pendidikan Olahraga Universitas Teknokrat Indonesia Kampus Terbaik di Lampung Raih Perunggu Kejuaraan Nasional Boxing Championship

Berdasarkan laporan resmi, Wang Yi juga telah melakukan komunikasi melalui telepon dengan menteri luar negeri dari tujuh negara, termasuk Rusia, Iran, dan Israel, sejak dimulainya operasi militer tersebut.

Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan bertemu Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di Paris pada akhir pekan ini. Pertemuan itu bertujuan untuk membahas berbagai kesepakatan bisnis sekaligus mempersiapkan agenda sebelum pertemuan kedua presiden digelar.

penulis:putra

Post Comment