×

Indonesia Peringkat 97 Kesenjangan Gender? Duh, Kita Masih Punya PR Gede!

Pernah nggak kamu merasa bangga karena sekarang sudah banyak perempuan yang jadi bos, menteri, atau pilot? Kita sering merasa Indonesia sudah sangat maju soal kesetaraan. Tapi, data terbaru di tahun 2026 ini baru saja memberikan kita “tamparan” realita yang cukup keras: Indonesia masih nangkring di peringkat 97 dalam skor kesenjangan gender global.

Ya, kamu nggak salah baca. Peringkat 97. Angka ini bukan sekadar urutan absen, tapi cerminan bahwa antara laki-laki dan perempuan di negeri ini masih ada jurang lebar yang belum terjembatani. Kalau kita ibaratkan balapan, kita masih tertinggal jauh di belakang, sementara negara tetangga mungkin sudah melaju lebih kencang dalam memberikan ruang bagi perempuannya.

Kenapa Angka 97 Itu Mengkhawatirkan?

Skor kesenjangan gender biasanya diukur dari empat pilar utama: partisipasi ekonomi, pencapaian pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan politik. Di Indonesia, meskipun akses pendidikan sudah mulai merata, masalah besar justru muncul saat perempuan masuk ke dunia kerja dan politik.

Banyak perempuan yang “hilang” dari peredaran setelah menikah atau punya anak. Bukan karena mereka malas, tapi karena sistem dukungan (support system) kita yang belum mendukung. Mulai dari urusan domestik yang masih dianggap 100% tugas istri, hingga minimnya fasilitas penitipan anak yang terjangkau di tempat kerja. Akhirnya, banyak potensi hebat yang terbuang percuma karena terbentur tembok tradisi dan kurangnya kebijakan yang pro-perempuan.

🔖 Baca juga:
Contoh Soal Hambatan Listrik Dinamis Lengkap dengan Pembahasan Mudah Dipahami

Form Penukaran Uang Baru – Pintar BI

Masalah Bukan Cuma Soal Gaji

Kalau kita bicara kesenjangan, orang seringnya cuma fokus ke gaji. Padahal, masalahnya lebih dalam dari itu. Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR RI, berkali-kali mengingatkan bahwa penguatan kesadaran kesetaraan gender harus jadi gerakan nasional. Kenapa? Karena di lapangan, perempuan masih sering menghadapi “beban ganda”.

Bayangkan seorang ibu pekerja yang harus meeting pagi-pagi, tapi sebelumnya harus memastikan rumah rapi, anak sudah makan, dan cucian sudah beres. Sementara di sisi lain, tuntutan profesionalitas di kantor tidak mau tahu urusan rumah tangga tersebut. Inilah yang disebut kesenjangan beban kerja. Selama mindset “urusan rumah itu urusan perempuan” masih dominan, peringkat kita mungkin bakal sulit beranjak dari angka 97.

Ancaman di Balik Krisis Global

Kondisi ini makin diperparah dengan situasi dunia di tahun 2026 yang penuh konflik dan ketidakpastian ekonomi. Saat kiamat energi atau kelangkaan bahan pokok terjadi, perempuan biasanya menjadi kelompok yang paling terdampak. Mereka yang paling pusing mengatur dapur saat harga minyak goreng naik, dan mereka pula yang seringkali harus mengalah pertama kali ketika penghematan biaya pendidikan keluarga dilakukan.

Selain itu, aktivis dari Konde.co menyoroti bahwa di tengah sulitnya ekonomi, ancaman terhadap tubuh perempuan juga meningkat. Eksploitasi dan kekerasan seringkali bersembunyi di balik alasan “kebutuhan ekonomi”. Jika kita masih berada di peringkat bawah dalam hal perlindungan dan kesetaraan, maka perempuan akan terus menjadi korban paling rentan dalam setiap krisis.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Kita nggak bisa cuma menyalahkan keadaan. Peringkat 97 ini harus jadi motivasi buat berbenah. Pemerintah perlu lebih serius mengawal undang-undang yang melindungi perempuan, perusahaan harus lebih berani memberikan upah yang setara, dan kita sebagai individu harus mulai mengubah cara pandang.

Kesetaraan gender bukan berarti perempuan ingin jadi laki-laki. Kesetaraan berarti perempuan punya pilihan yang sama dan rasa aman yang sama untuk menentukan masa depannya. Kita butuh lebih banyak perempuan di kursi pengambil kebijakan agar keputusan-keputusan yang diambil tidak bias gender.

Kesimpulan: PR Kita Belum Selesai

Hari Perempuan Sedunia 2026 ini adalah momen yang tepat untuk berhenti sejenak dan melihat rapor kita. Peringkat 97 adalah bukti bahwa PR kita masih menumpuk. Kita butuh lebih dari sekadar jargon “Perempuan Berdaya, Bangsa Berjaya”. Kita butuh aksi nyata di dapur, di kantor, dan di parlemen.

Ayo, jangan biarkan tahun depan kita masih terjebak di angka yang sama. Saatnya kita dorong Indonesia naik kelas, bukan cuma demi peringkat, tapi demi kehidupan yang lebih adil bagi ibu, saudara perempuan, istri, dan anak-anak perempuan kita nantinya.

Post Comment