Hati-Hati Belanja Online! BPOM Bongkar Jutaan Produk Kesehatan Ilegal yang Beredar di Marketplace

Sobat belanja online, coba cek keranjang belanjaan kalian sekarang. Apakah ada suplemen, kosmetik, atau makanan “ajaib” yang klaimnya bisa bikin cantik instan, badan fit seketika, atau masalah kejantanan tuntas dalam semalam? Kalau ada, mendingan kalian baca artikel ini sampai habis. Kenapa? Karena Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) baru saja membongkar “sarang” perdagangan produk ilegal yang skalanya benar-benar bikin geleng-geleng kepala.

Tahun 2025 kemarin, patroli siber BPOM mencatat angka yang fantastis sekaligus menakutkan: ada ribuan akun dan hampir 200 ribu tautan penjualan produk ilegal di berbagai marketplace. Kita bicara soal produk yang tidak punya izin edar atau—yang lebih parah—dicampur dengan bahan kimia berbahaya. Yuk, kita kupas temuan ini biar kita semua makin melek dan tidak jadi korban berikutnya!

Skala Temuan: Bukan Main-main, Mencapai Jutaan Produk!

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, dalam konferensi pers di Jakarta pada Februari 2026, membeberkan hasil patroli siber mereka yang mencakup sepanjang tahun 2025. Angkanya bukan cuma ratusan atau ribuan, tapi mencapai 11,1 juta produk. Kalau ditotal dengan tindak lanjut takedown tautan, BPOM bahkan mengidentifikasi keterlibatan hingga 34,8 juta produk!

Produk-produk ini datang dari mana-mana: mulai dari produsen lokal yang nakal, sampai barang-barang impor yang masuk secara ilegal dari China, Korea Selatan, Amerika Serikat, Jepang, Australia, Thailand, hingga Malaysia.

Baca juga:
Marcus Rashford Cocok untuk Arsenal? Begini Kata Michael Owen

Apa saja sih yang paling banyak dijual secara ilegal?

  1. Kosmetik: Juara pertama dengan 73.722 tautan.
  2. Obat Bahan Alam (OBA) & Obat Kuasi: 39.386 tautan.
  3. Obat-obatan: 35.984 tautan.
  4. Pangan Olahan: 32.684 tautan.
  5. Suplemen Kesehatan: 15.949 tautan.

Mengapa Produk Ilegal Itu Berbahaya? (Spoiler: Bisa Mematikan!)

Mungkin kalian bertanya, “Ya kalau cuma tidak ada izin edar, apa masalahnya? Kan yang penting murah.” Nah, di sinilah letak bahayanya. Banyak produk yang tidak terdaftar ini tidak melewati uji laboratorium BPOM. Artinya, kita tidak tahu apa isi di dalamnya.

Temuan BPOM sangat mengerikan. Banyak suplemen dan pangan olahan yang kedapatan mengandung Bahan Kimia Obat (BKO). Contoh paling jelas adalah permen-permen “penambah stamina” atau madu kuat. BPOM menemukan zat seperti Tadalafil dan Sildenafil di dalamnya.

Baca Juga : Mudik Asyik ke Pulau Seribu: Pemprov DKI Jakarta Bagi-Bagi Tiket Kapal Gratis buat Lebaran 2026!

Apa bahayanya? Zat-zat ini bukan untuk konsumsi sembarangan. Kalau diminum tanpa pengawasan dokter, dampaknya bisa membuat tekanan darah jadi tidak stabil, memicu kerusakan hati dan ginjal secara permanen, menyebabkan serangan jantung, bahkan dalam banyak kasus, berujung pada kematian. Jadi, jangan tergiur klaim “alami” atau “tahan lama” yang tidak jelas sumbernya!

Daftar Produk “Merah” yang Perlu Kalian Waspadai

BPOM sudah merilis daftar produk yang masuk dalam radar patroli siber karena mengandung BKO atau tidak memiliki izin edar (TIE). Berikut beberapa di antaranya yang mungkin tidak asing di mata kalian:

  • Soloco Candy (Asal Australia): Mengandung tadalafil.
  • Akiyo Candy (Asal Thailand): Mengandung tadalafil.
  • Super Tonik Madu Kuat Alami Tahan Lama (Produksi Indonesia): Mengandung sildenafil.
  • Khophi 21 Days Female (Indonesia): Tanpa izin edar.
  • CED Himalayan Pink Rock Salt (Malaysia): Tanpa izin edar.
  • Milo Malaysia (Malaysia): Tanpa izin edar.
  • Susu Walet (Indonesia): Tanpa izin edar.
  • 82 Serbuk Teh A1 (Malaysia): Tanpa izin edar.
  • Kopi Hitam L-Karnitin (China): Tanpa izin edar.
  • Kerry Cheese Powder (Malaysia): Tanpa izin edar.

Temuan ini menyebar di berbagai kota besar, mulai dari Jakarta, Medan, Samarinda, hingga Bogor. Jadi, jangan merasa aman hanya karena tinggal di kota besar.

Baca juga:
BPNT Februari 2026 Sudah Masuk Rekening? Begini Cara Pastikannya

Langkah BPOM: Tidak Tinggal Diam

Menghadapi masifnya perdagangan ilegal ini, BPOM tidak bekerja sendirian. Mereka menggandeng Kementerian Komunikasi dan Digital serta asosiasi e-commerce (idEA) untuk melakukan takedown atau penurunan tautan penjualan secara massal.

Baca Juga : Mahasiswa Pendidikan Olahraga Teknokrat Kampus Terbaik di Lampung Raih Perak Fighter of Road to PON Beladiri 2025

Tujuannya jelas: memutus rantai akses supaya masyarakat tidak mudah terpapar produk-produk berbahaya ini. Namun, harus kita akui, jumlah pedagang nakal di marketplace itu seperti fenomena gunung es. Satu akun ditutup, akun baru muncul dengan nama berbeda. Oleh karena itu, kunci pertahanan terakhir sebenarnya ada di tangan kita, para pembeli.

Tips Belanja Online Aman: Jangan Sampai Jadi Korban

Biar kalian tidak tertipu dan kesehatan keluarga tetap terjaga, berikut adalah panduan “Checklist Cerdas” sebelum klik tombol Checkout:

  1. Cek Izin Edar (Cek KLIK): Selalu cek nomor izin edar di kemasan. Kalian bisa langsung verifikasi nomor tersebut melalui aplikasi BPOM Mobile atau situs resmi cekbpom.pom.go.id. Kalau nomornya tidak ada atau tidak terdaftar, skip saja!
  2. Jangan Tergiur Harga Murah: Jika ada produk impor yang biasanya mahal tapi dijual dengan harga miring di akun yang tidak jelas, curigalah. Produk kesehatan asli punya standar harga yang relatif stabil.
  3. Beli di Official Store: Sebisa mungkin, beli produk kesehatan, kosmetik, atau suplemen di toko resmi (Official Store) yang sudah terverifikasi oleh marketplace. Jangan mudah tergiur akun yang baru buka dengan followers sedikit tapi menjual produk yang “ajaib”.
  4. Baca Ulasan dengan Kritis: Jangan cuma baca bintang 5. Baca juga ulasan yang memberikan bintang 1 atau 2. Biasanya, di sanalah pembeli jujur menceritakan efek samping atau ketidaksamaan produk dengan aslinya.
  5. Perhatikan Kemasan: Produk asli pasti punya kemasan yang rapi, segel yang baik, dan tulisan yang jelas. Kalau kemasannya terlihat buram, bahasa asing yang tidak umum, atau tidak ada informasi produsen, sebaiknya urungkan niat.
  6. Jangan Percaya Klaim “Instan”: Produk kesehatan yang aman butuh proses. Kalau ada iklan yang menjanjikan “turun 10kg dalam seminggu” atau “sembuh total dari penyakit kronis dalam satu saset”, itu adalah tanda bahaya besar (red flag).

Mengapa Kita Harus Lebih Peduli?

Mungkin bagi sebagian orang, belanja online adalah hiburan. Tapi, ketika kita bicara soal produk yang masuk ke dalam tubuh atau menempel di kulit, itu adalah urusan nyawa. BPOM sudah bekerja keras melalui patroli siber, tapi jumlah produk ilegal yang mencapai belasan juta membuktikan bahwa permintaan pasar terhadap barang-barang ilegal ini masih sangat tinggi.

Selama ada pembeli yang mau membeli barang ilegal, selama itu pula pedagang nakal akan terus mencari cara untuk berjualan. Kita harus memutus siklus ini. Jadilah konsumen yang pintar. Jangan jadikan tubuh kita sebagai kelinci percobaan bagi zat-zat kimia berbahaya yang bahkan tidak lulus uji edar.

Kesimpulan: Kesehatan Adalah Investasi, Bukan Bahan Uji Coba

Temuan BPOM ini harus jadi pengingat keras bagi kita semua. Belanja online memang memudahkan hidup, tapi kalau kita tidak dibekali dengan literasi yang cukup, kita justru sedang mendatangkan masalah besar ke rumah sendiri.

Baca juga:
Universitas Jurusan Komputer Terbaik di Lampung

Kesehatan itu mahal harganya. Membeli suplemen atau kosmetik murah yang mengandung bahan kimia berbahaya mungkin terasa seperti hemat di awal, tapi biaya rumah sakit yang harus dikeluarkan nanti—untuk cuci darah, pengobatan hati, atau masalah jantung—akan jauh lebih mahal dari harga produk yang kalian beli.

Mari kita lebih bijak. Cek, Ricek, dan pastikan setiap produk yang kita beli sudah ada izin edarnya. Kalau ragu, jangan dibeli. Kalau sudah terlanjur punya, segera cek di aplikasi BPOM. Dan yang paling penting, sebarkan informasi ini ke keluarga atau teman agar mereka juga tidak terjebak.

Ingat, Sobat: Be a smart consumer! Jangan biarkan uang kita dipakai untuk mendukung perdagangan barang ilegal yang membahayakan nyawa. Kesehatan kita terlalu berharga untuk ditaruhkan pada produk-produk yang tidak jelas asal-usulnya. Tetap waspada dan belanja dengan penuh tanggung jawab!

Penulis : Reyfen

Post Comment