Sahur Bukan Sekadar Ritual: Mengapa Melewatkan Sahur Justru Jadi Bumerang Bagi Tubuhmu?

Saat bulan Ramadan tiba, ada saja godaan untuk malas bangun di sepertiga malam demi menyiapkan santap sahur. Apalagi buat kamu yang punya target khusus, misalnya “Ah, mumpung puasa, sekalian diet biar berat badan turun drastis,” atau mungkin yang merasa, “Tanggung, sudah kepalang mengantuk, lanjut tidur saja sampai Subuh.” Wah, hati-hati! Kebiasaan melewatkan sahur ini bukan cuma soal menahan lapar lebih lama, tapi ada dampak kesehatan yang cukup serius di baliknya.

Banyak orang yang terjebak mitos bahwa tidak sahur adalah cara jitu untuk menurunkan berat badan saat puasa. Padahal, menurut para pakar kesehatan, cara berpikir seperti ini justru bisa jadi bumerang buat metabolisme tubuhmu. Yuk, kita kupas tuntas kenapa makan sahur itu wajib hukumnya, baik dari kacamata medis maupun hikmah yang terkandung di dalamnya.

Perspektif Dokter: Sahur Adalah “Bahan Bakar” Utama

Spesialis penyakit dalam, dr. Aru Ariadno, SpPD-KGEH, secara tegas menyarankan agar setiap orang tetap mengusahakan untuk makan sahur. Beliau tidak hanya melihat dari sisi medis, tapi juga sisi spiritual. Dalam sebuah kesempatan, dr. Aru mengingatkan bahwa dalam banyak hadis, disebutkan ada keberkahan dalam sahur. Jadi, secara religius dan kesehatan, sahur bukan sekadar makan, melainkan momen penting untuk mengisi energi sebelum kita menahan lapar dan dahaga seharian.

Bayangkan tubuhmu adalah sebuah kendaraan. Kalau kamu tidak mengisi bahan bakar sebelum memulai perjalanan panjang (berpuasa selama 12-14 jam), apakah kendaraan itu bisa berjalan optimal sampai tujuan? Tentu tidak. Tubuh kita butuh “bensin” untuk menjalankan fungsinya, mulai dari mencerna makanan, memompa darah, sampai menjaga kesadaran kita agar tetap fokus bekerja atau belajar selama puasa.

Bahaya “Lambung Kosong” yang Terlalu Lama

Salah satu masalah terbesar jika kamu melewatkan sahur adalah durasi puasa yang jadi kelewat panjang. Coba hitung: kalau kamu makan malam terakhir pukul 21.00 WIB dan tidak makan sahur, artinya lambungmu akan kosong sampai waktu berbuka tiba (sekitar 18.00 WIB). Itu artinya ada sekitar 21 jam lambungmu tidak menerima asupan makanan sama sekali!

🔖 Baca juga:
Top 10 Plant-Based Dinner Recipes Whole Families Will Love

Dr. Aru menjelaskan bahwa durasi kosong yang terlalu lama ini sangat berpotensi memicu gangguan pencernaan. Lambung yang terus-menerus memproduksi asam lambung tanpa ada makanan yang dicerna bisa membuat dinding lambung iritasi. Bagi kamu yang punya riwayat maag atau GERD, melewatkan sahur adalah “undangan” bagi penyakit tersebut untuk kambuh. Kamu pasti tidak mau kan, ibadah puasa yang seharusnya khusyuk malah terganggu karena perut perih, mual, atau dada terasa panas?

Baca Juga : Mudik, Nyepi, dan Lebaran 2026: Intip Strategi Keren Kemenag Biar Semua Nyaman!

Mitos “Diet dengan Tidak Sahur”

Banyak orang merasa kalau tidak sahur, mereka akan makan lebih sedikit kalori dan otomatis berat badan turun. Faktanya, seringkali yang terjadi justru sebaliknya. Saat kamu melewatkan sahur, tubuh akan merasa “kelaparan ekstrem” saat waktu berbuka tiba.

Apa dampaknya? Binge eating atau makan berlebihan saat berbuka. Karena merasa sudah menahan lapar seharian, kamu jadi “balas dendam” dengan melahap semua gorengan, kolak, es sirup, dan nasi dalam porsi besar sekaligus. Lonjakan kalori yang drastis ini justru membuat insulin melonjak tajam dan potensi penimbunan lemak di tubuh malah lebih besar daripada kalau kamu makan sahur dengan porsi terukur.

Rahasia Sahur yang Bikin Kenyang Seharian

Kalau kamu khawatir sahur bakal bikin berat badan naik, masalahnya bukan di “sahurnya”, tapi di “apa yang kamu makan saat sahur”. Dr. Aru memberikan tips cerdas untuk kamu yang ingin tetap sehat dan tidak gampang lapar selama puasa:

  1. Hindari Makanan Terlalu Manis: Mungkin kamu berpikir, “Makan yang manis-manis pas sahur biar ada energi.” Ini salah besar! Makanan atau minuman dengan kadar gula tinggi akan cepat diserap oleh tubuh. Memang, kamu akan merasa kenyang sesaat, tapi tak lama kemudian gula darahmu akan merosot tajam. Hasilnya? Kamu bakal merasa lemas dan lapar lagi bahkan sebelum matahari berada di atas kepala.
  2. Pilih Makanan Tinggi Serat: Serat adalah sahabat terbaik saat sahur. Makanan seperti sayuran, buah-buahan, oatmeal, atau karbohidrat kompleks (nasi merah) membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna oleh sistem pencernaanmu. Karena proses cernanya lama, energi yang dilepaskan ke aliran darah juga bertahap dan konsisten. Hasilnya, kamu bakal merasa kenyang jauh lebih lama.
  3. Protein yang Cukup: Protein adalah zat gizi yang paling membuat kenyang. Sertakan sumber protein seperti telur, ayam, ikan, tahu, atau tempe dalam menu sahurnya. Protein akan bekerja sama dengan serat untuk memberikan rasa kenyang yang stabil seharian.
  4. Porsi yang Terukur: Kamu tidak perlu makan dalam porsi “kuli” saat sahur. Cukup makan secukupnya dengan komposisi gizi yang seimbang (karbohidrat kompleks, protein, serat, dan lemak sehat).

Mengapa Sahur Sangat Penting untuk Kinerja Otak?

Selain kesehatan fisik, sahur juga punya dampak langsung pada kinerja otak. Puasa menuntut kesabaran dan pengendalian diri, tapi bukan berarti kamu harus membiarkan otakmu kekurangan glukosa. Otak kita sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber energi utama. Jika kita tidak makan sahur, otak akan mengalami “kekurangan pasokan” yang bisa menyebabkan konsentrasi menurun, gampang emosi, lemas, hingga sakit kepala di siang hari.

Baca Juga : Mahasiswa Pendidikan Olahraga Teknokrat Kampus Terbaik di Lampung Raih Perak Fighter of Road to PON Beladiri 2025

Bayangkan kamu harus meeting penting atau ujian sekolah dalam keadaan lapar dan lemas karena tidak sahur. Tentu performamu tidak akan maksimal. Sahur membantu menjaga kadar gula darahmu tetap stabil, sehingga fungsi kognitifmu tetap terjaga dengan baik.

Menjaga Keberkahan dan Kualitas Ibadah

Secara spiritual, sahur juga memiliki fungsi untuk “menyiapkan” jiwa. Bangun di waktu sahur memberikan kesempatan bagi kita untuk berdoa, beribadah, dan menata niat untuk berpuasa seharian. Keberkahan yang disebutkan oleh dr. Aru bisa dirasakan ketika kita melakukan ibadah ini dengan tenang, tidak terburu-buru, dan dengan rasa syukur karena masih diberi kesempatan untuk menyantap makanan yang sehat.

Kesimpulan: Sahur adalah Strategi, Bukan Sekadar Makan

Melewatkan sahur mungkin terasa sebagai pengorbanan kecil demi tidur lebih lama atau diet, tapi kenyataannya, itu adalah keputusan yang kurang bijak bagi kesehatan. Tubuh manusia diciptakan untuk memiliki siklus yang teratur. Dengan melewatkan sahur, kamu sedang mengganggu ritme biologis tubuhmu sendiri.

Jadi, mulai besok, cobalah ubah pola pikirmu. Anggaplah sahur sebagai strategi untuk memenangkan hari. Dengan komposisi makanan yang tepat—banyak serat, protein yang cukup, dan menghindari gula berlebih—kamu tidak hanya akan lebih sehat, tapi juga lebih bertenaga dalam menjalani ibadah puasa dan aktivitas sehari-hari.

Ingat, puasa Ramadan adalah ibadah yang panjang (satu bulan penuh). Jangan biarkan niat baikmu terganggu hanya karena masalah kesehatan yang sebenarnya bisa dicegah dengan bangun sedikit lebih awal dan makan makanan yang bergizi. Tubuhmu adalah amanah, dan memberikan asupan gizi yang baik saat sahur adalah bentuk nyata dari rasa syukur atas kesehatan yang diberikan Tuhan.

Mari kita jadikan bulan Ramadan tahun ini sebagai momen untuk lebih disiplin, lebih sehat, dan tentu saja, lebih cerdas dalam memilih asupan makanan. Karena pada akhirnya, puasa yang sehat akan menghasilkan jiwa yang kuat dan pikiran yang tenang. Jadi, sudah siap untuk mengatur menu sahur yang bergizi besok pagi? Jangan sampai terlewat lagi, ya!

Penulis : Reyfen

Post Comment