Kepala Dinas Kesehatan DKI, Ani Ruspitawati, bilang kalau hasil pemeriksaan menunjukkan mayoritas temuan mengarah ke risiko penyakit jantung (kardiovaskular). Pemicu utamanya? Ya itu tadi: kurang aktivitas fisik dan masalah obesitas sentral alias perut buncit.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, juga ikutan gemas. Menurut beliau, gaya hidup sedentary alias malas gerak ini memang sudah jadi masalah nasional, bukan cuma di Jakarta saja.
Baca Juga : Anatomi Pasar: Faktor Utama yang Menggerakkan Harga Minyak Goreng Saat Ini
Beliau membandingkan kebiasaan kita dengan tetangga sebelah, Singapura. “Nggak usah jauh-jauh, lihat Singapura. Mereka ke mana-mana jalan kaki, padahal cuacanya sama panasnya dan bikin keringetan kayak di Indonesia,” kata dr. Nadia.
Beliau juga ngasih contoh nyata yang sering kelihatan di depan mata. Contohnya di depan kantor Kemenkes sendiri; banyak orang yang rela antre panjang di lift cuma buat naik ke stasiun LRT, padahal sudah disediain tangga biar orang mau bergerak.
Bahkan, dr. Nadia mencatat kalau di luar negeri, orang yang naik eskalator pun biasanya tetap sambil jalan kaki biar nggak diam saja. Intinya, mengubah kebiasaan ‘mager’ ini memang masih jadi PR besar buat kita semua.
Penulis : Reyfen


Post Comment