Bagi mahasiswa kebidanan, keperawatan, maupun ilmu kesehatan masyarakat, memahami administrasi dan pemantauan kesehatan melalui register kohort adalah harga mati. Uji Kompetensi (UKOM) sering kali mengeluarkan soal-soal berbasis kasus yang menguji ketelitian dalam membaca data kohort balita. Kohort balita bukan sekadar daftar nama; ia adalah instrumen epidemiologi untuk memantau tumbuh kembang, imunisasi, hingga deteksi dini penyakit pada anak usia 12 hingga 59 bulan.
Artikel ini disusun khusus untuk membantu Anda menguasai logika pengisian dan analisis data kohort balita. Kami telah menyiapkan 7 contoh soal kasus yang sering muncul dalam simulasi ujian, lengkap dengan pembahasan mendalam yang akan mengasah insting klinis dan manajerial Anda. Mari kita bedah satu per satu agar Anda makin siap menghadapi UKOM dan praktik lapangan di Puskesmas atau Posyandu.
Mengapa Data Kohort Balita Sangat Penting dalam Ujian?
Dalam sistem informasi kesehatan di Indonesia, Register Kohort merupakan jantung dari Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA). Soal-soal kasus kohort balita biasanya dirancang untuk menguji pemahaman Anda tentang:
Baca juga:Kumpulan Contoh Soal dan Pembahasan RBSL (Rancangan Bujur Sangkar Latin) Terlengkap
- Ketepatan jadwal pemantauan pertumbuhan (timbangan).
- Kelengkapan pemberian vitamin A dan obat cacing.
- Identifikasi status gizi (kurang, buruk, atau stunting).
- Prosedur rujukan jika ditemukan penyimpangan tumbuh kembang.
- Administrasi perpindahan balita (domisili).
Memahami format kolom pada buku kohort akan memudahkan Anda mengeliminasi jawaban yang salah saat ujian. Tanpa basa-basi lagi, berikut adalah latihan soal untuk Anda.
Soal Kasus 1: Pemantauan Pertumbuhan dan Status Gizi
Kasus:
Balita laki-laki berumur 24 bulan dibawa ibunya ke Posyandu. Pada penimbangan bulan lalu (Mei), berat badannya adalah 11,5 kg. Pada penimbangan bulan ini (Juni), berat badannya tetap 11,5 kg. Garis pertumbuhan pada buku KIA menunjukkan posisi di atas pita hijau (normal), namun arah garisnya mendatar. Bagaimana pengisian yang tepat pada kolom grafik pertumbuhan di buku kohort balita?
A. N (Naik)
B. T (Tetap)
C. T (Tidak Naik)
D. O (Orang Tua tidak tahu)
E. B (Baru pertama kali)
Pembahasan:
Jawaban yang benar adalah C. T (Tidak Naik).
Dalam standar pengisian KMS (Kartu Menuju Sehat) yang kemudian disalin ke buku kohort, kode “N” diberikan jika berat badan naik dan mengikuti garis pertumbuhan. Kode “T” diberikan jika: (1) berat badan tetap, (2) berat badan naik tetapi tidak mengikuti garis pertumbuhan (kenaikan kurang dari KBM), atau (3) berat badan turun. Karena berat balita pada kasus di atas tetap 11,5 kg (mendatar), maka statusnya adalah “T” (Tidak Naik).
Soal Kasus 2: Pemberian Vitamin A Dosis Tinggi
Kasus:
Seorang balita perempuan usia 18 bulan datang ke Puskesmas pada tanggal 15 Februari 2026. Dalam catatan kohort, balita tersebut belum mendapatkan kapsul vitamin A tahun ini. Petugas kesehatan memberikan kapsul vitamin A warna merah. Kapan jadwal pemberian vitamin A selanjutnya untuk balita tersebut menurut standar program nasional?
A. Maret 2026
B. Mei 2026
C. Agustus 2026
D. Februari 2027
E. Agustus 2027
Pembahasan:
Jawaban yang benar adalah C. Agustus 2026.
Program pemberian Vitamin A dosis tinggi di Indonesia dilakukan dua kali setahun, yaitu pada bulan Februari dan Agustus. Karena balita tersebut berusia di atas 12 bulan (18 bulan), ia berhak mendapatkan kapsul merah (dosis 200.000 SI). Meskipun ia mendapatkannya di pertengahan Februari, jadwal rutin berikutnya tetap jatuh pada bulan Agustus tahun yang sama.
Soal Kasus 3: Deteksi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK)
Kasus:
Anak laki-laki usia 36 bulan dilakukan pemeriksaan SDIDTK oleh bidan di Puskesmas Pembantu. Hasil KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan) menunjukkan jawaban “Ya” sebanyak 7 poin dan “Tidak” sebanyak 3 poin. Apa interpretasi hasil perkembangan anak tersebut dan apa tindakan selanjutnya yang harus dicatat dalam rencana tindak lanjut di buku kohort?
A. Perkembangan Sesuai (S), ajarkan stimulasi rutin.
B. Perkembangan Meragukan (M), berikan stimulasi intensif selama 2 minggu.
C. Perkembangan Menyimpang (P), segera rujuk ke RS.
D. Perkembangan Kurang, ulangi pemeriksaan 1 bulan lagi.
E. Perkembangan Normal, tidak perlu tindakan.
Pembahasan:
Jawaban yang benar adalah B. Perkembangan Meragukan (M), berikan stimulasi intensif selama 2 minggu.
Interpretasi Skor KPSP:
- 9-10: Sesuai (S)
- 7-8: Meragukan (M)
- 6 atau kurang: Penyimpangan (P)Karena skornya 7, maka masuk kategori Meragukan. Tindakan standar adalah memberikan instruksi kepada orang tua untuk melakukan stimulasi lebih intensif pada aspek yang dijawab “Tidak” selama 2 minggu, kemudian dilakukan pemeriksaan ulang.
Soal Kasus 4: Tata Laksana Balita Sakit (MTBS)
Kasus:
Balita usia 4 tahun datang dengan keluhan batuk selama 2 hari. Hasil pemeriksaan frekuensi napas menunjukkan 38 kali per menit. Tidak ada tarikan dinding dada ke dalam dan tidak ada stridor. Di buku kohort balita, klasifikasi apa yang harus dituliskan oleh petugas?
A. Pneumonia Berat
B. Pneumonia
C. Bukan Pneumonia (Batuk Bukan Pneumonia)
D. Bronkitis
E. ISPA Ringan
Pembahasan:
Jawaban yang benar adalah C. Bukan Pneumonia (Batuk Bukan Pneumonia).
Berdasarkan bagan MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit), batasan napas cepat untuk anak usia 12 bulan hingga 5 tahun adalah $\ge 40$ kali per menit. Karena frekuensi napas anak 38 kali per menit (di bawah 40) dan tidak ada tanda bahaya umum atau tarikan dinding dada, maka diklasifikasikan sebagai Batuk Bukan Pneumonia.
Soal Kasus 5: Kelengkapan Data Imunisasi Tambahan
Kasus:
Pada bulan Juni 2026, dilaksanakan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) di suatu desa. Seorang balita usia 50 bulan mendapatkan imunisasi MR (Measles Rubella) tambahan meskipun status imunisasi dasarnya sudah lengkap. Di kolom mana informasi ini paling tepat dicatat dalam buku register kohort balita untuk memastikan cakupan desa terpantau?
A. Kolom Imunisasi Dasar
B. Kolom Keterangan/Catatan
C. Kolom Imunisasi Lanjutan (Booster)
D. Kolom Imunisasi Tambahan/BIAN
E. Kolom Status Gizi
Pembahasan:
Jawaban yang benar adalah D. Kolom Imunisasi Tambahan/BIAN.
Buku kohort balita versi terbaru biasanya memiliki kolom khusus untuk kampanye massa atau imunisasi tambahan seperti BIAN atau PIN (Pekan Imunisasi Nasional). Pencatatan di kolom ini penting agar petugas dapat membedakan antara imunisasi rutin/booster dengan imunisasi program tambahan pemerintah.
Soal Kasus 6: Analisis Balita “Drop Out” Layanan
Kasus:
Bidan desa melakukan audit buku kohort balita di bulan Juli. Ditemukan data balita “A” (usia 30 bulan) yang tidak datang ke Posyandu selama 3 bulan berturut-turut (April, Mei, Juni), padahal sebelumnya selalu rutin. Apa label yang tepat untuk kasus balita ini dalam laporan bulanan PWS KIA?
A. Balita Pindah
B. Balita Meninggal
C. Balita Drop Out (DO) Pemantauan
D. Balita Sehat tanpa perlu pantauan
E. Balita Lulus Kohort
Pembahasan:
Jawaban yang benar adalah C. Balita Drop Out (DO) Pemantauan.
Balita yang tidak hadir dalam pemantauan pertumbuhan selama 3 bulan berturut-turut dikategorikan sebagai Drop Out atau kehilangan kontak. Tindakan yang harus dilakukan bidan adalah melakukan kunjungan rumah (sweeping) untuk mencari tahu alasan ketidakhadiran, apakah karena sakit, pindah domisili tanpa lapor, atau alasan lainnya.
Soal Kasus 7: Integrasi Layanan (Obat Cacing)
Kasus:
Seorang balita usia 2,5 tahun (30 bulan) datang ke Posyandu pada bulan Agustus. Ia mendapatkan kapsul Vitamin A merah. Selain vitamin A, program nasional mewajibkan pemberian obat pencegahan massal (OPM) kecacingan pada bulan yang sama. Berapa dosis Albendazole yang harus diberikan dan dicatat dalam buku kohort?
A. 100 mg (Dosis Tunggal)
B. 200 mg (Dosis Tunggal)
C. 400 mg (Dosis Tunggal)
D. 500 mg (Dosis Tunggal)
E. 200 mg selama 3 hari
Pembahasan:
Jawaban yang benar adalah C. 400 mg (Dosis Tunggal).
Sesuai protokol Kemenkes:
- Anak usia 12-23 bulan: 200 mg (setengah tablet).
- Anak usia 24-59 bulan: 400 mg (satu tablet).Karena balita berusia 30 bulan, maka ia mendapatkan dosis penuh 400 mg.
Tips Menghadapi Soal Kohort Balita Saat UKOM
Agar Anda bisa menjawab soal-soal ini dengan kecepatan tinggi (sat-set), perhatikan tips berikut:
- Hafalkan Batasan Usia: Ketahui perbedaan perlakuan medis untuk bayi (0-11 bulan) dan balita (12-59 bulan), terutama pada dosis vitamin A dan obat cacing.
- Pahami Singkatan: Jangan bingung dengan istilah BGM (Bawah Garis Merah), 2T (Dua kali Tidak naik), atau SKDN (S, K, D, N dalam pelaporan Posyandu).
- Teliti Angka Napas Cepat: Ini adalah jebakan paling sering dalam soal MTBS. Ingat angka 60 (bayi <2 bln), 50 (bayi 2-11 bln), dan 40 (anak 1-5 thn).
- Baca Kolom secara Horizontal: Dalam soal yang menyajikan potongan tabel kohort, pastikan Anda menarik garis lurus dari nama balita ke kolom bulan yang ditanyakan agar tidak tertukar datanya.
penulis:bagas
![Dalam materi statistika, simpangan baku dan varian data tunggal menjadi salah satu topik penting yang perlu dipahami. Keduanya digunakan untuk mengetahui seberapa besar penyebaran data terhadap nilai rata-ratanya. Jika data memiliki penyebaran yang kecil, nilai simpangan baku dan variannya juga cenderung kecil. Sebaliknya, semakin jauh data tersebar dari rata-rata, semakin besar pula nilai simpangan baku dan varian. Materi ini sering muncul dalam pembelajaran matematika, terutama ketika membahas statistika dasar. Untuk menguasainya, tidak cukup hanya menghafalkan rumus. Kita juga perlu memahami langkah-langkah menghitung mean, selisih setiap data dengan rata-rata, kuadrat selisih, varian, hingga simpangan baku. Artikel ini akan membahas pengertian, rumus, perbedaan, serta beberapa contoh soal simpangan baku dan varian data tunggal lengkap dengan cara mengerjakannya secara bertahap. Apa Itu Varian? Varian adalah ukuran statistik yang digunakan untuk mengetahui tingkat penyebaran data terhadap nilai rata-ratanya. Varian dihitung dengan mencari rata-rata dari kuadrat selisih setiap data terhadap mean. Dalam data tunggal, terdapat dua jenis rumus varian yang umum digunakan, yaitu varian populasi dan varian sampel. Untuk populasi, rumusnya adalah: σ² = Σ(xᵢ − μ)² / N Keterangan: σ² = varian populasi xᵢ = nilai setiap data μ = rata-rata populasi N = banyak data Σ = jumlah keseluruhan Sementara itu, untuk sampel, rumus varian adalah: s² = Σ(xᵢ − x̄)² / (n − 1) Keterangan: s² = varian sampel xᵢ = nilai setiap data x̄ = rata-rata sampel n = banyak data Dalam soal matematika sekolah, apabila soal menyebutkan sekumpulan data sebagai keseluruhan data yang sedang dianalisis, biasanya digunakan rumus varian populasi. Apa Itu Simpangan Baku? Simpangan baku atau standard deviation adalah akar kuadrat dari varian. Simpangan baku digunakan untuk mengetahui seberapa jauh penyebaran data dari nilai rata-ratanya. Rumus simpangan baku populasi adalah: σ = √[Σ(xᵢ − μ)² / N] Sedangkan untuk sampel: s = √[Σ(xᵢ − x̄)² / (n − 1)] Karena simpangan baku merupakan akar dari varian, keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Jika diketahui: Varian = 16 maka: Simpangan baku = √16 = 4 Jadi, semakin besar nilai varian, biasanya semakin besar pula simpangan bakunya. Perbedaan Varian dan Simpangan Baku Meskipun saling berkaitan, varian dan simpangan baku bukanlah hal yang sama. Varian merupakan rata-rata kuadrat penyimpangan data dari mean. Sementara itu, simpangan baku merupakan akar kuadrat dari varian. Contohnya, jika suatu kumpulan data memiliki varian sebesar 25, maka simpangan bakunya adalah: √25 = 5 Perbedaan lainnya terletak pada satuan. Varian menggunakan satuan yang dikuadratkan, sedangkan simpangan baku memiliki satuan yang sama dengan data aslinya. Karena alasan tersebut, simpangan baku sering kali lebih mudah digunakan untuk menginterpretasikan penyebaran data. Langkah-Langkah Menghitung Varian dan Simpangan Baku Data Tunggal Untuk menyelesaikan soal, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan. 1. Hitung nilai rata-rata Jumlahkan seluruh data, kemudian bagi dengan banyaknya data. Mean = jumlah seluruh data / banyak data 2. Hitung selisih setiap data dengan mean Setiap nilai data dikurangi dengan rata-rata. xᵢ − x̄ 3. Kuadratkan setiap selisih Hasil pengurangan tadi kemudian dikuadratkan. (xᵢ − x̄)² 4. Jumlahkan seluruh kuadrat selisih Setelah semua data dihitung, jumlahkan hasil kuadrat tersebut. Σ(xᵢ − x̄)² 5. Hitung varian Untuk populasi, jumlah kuadrat selisih dibagi dengan banyak data. 6. Hitung simpangan baku Simpangan baku diperoleh dengan mencari akar kuadrat dari varian. Contoh Soal 1: Menghitung Varian Data Tunggal Soal: Diketahui data nilai ulangan matematika lima siswa sebagai berikut: 6, 7, 8, 9, 10 Tentukan nilai varian dari data tersebut! Pembahasan Langkah pertama adalah menghitung rata-rata. Jumlah data: 6 + 7 + 8 + 9 + 10 = 40 Banyak data: n = 5 Maka: Mean = 40 / 5 = 8 Selanjutnya, hitung selisih setiap data dengan rata-rata. Data (x) x − mean (x − mean)² 6 -2 4 7 -1 1 8 0 0 9 1 1 10 2 4 Jumlah 0 10 Jumlah kuadrat selisih adalah: Σ(x − x̄)² = 10 Karena data tersebut dianggap sebagai populasi, maka: Varian = 10 / 5 Varian = 2 Jadi, varian data tersebut adalah 2. Contoh Soal 2: Menghitung Simpangan Baku Data Tunggal Soal: Tentukan simpangan baku dari data berikut: 5, 6, 7, 8, 9 Pembahasan Pertama, tentukan rata-rata. Jumlah data: 5 + 6 + 7 + 8 + 9 = 35 Banyak data: 5 Maka: Mean = 35 / 5 = 7 Selanjutnya, buat tabel perhitungan. Data x − mean (x − mean)² 5 -2 4 6 -1 1 7 0 0 8 1 1 9 2 4 Jumlah 0 10 Varian: σ² = 10 / 5 = 2 Simpangan baku: σ = √2 Jadi, simpangan bakunya adalah: √2 ≈ 1,41 Dengan demikian, simpangan baku data tersebut sekitar 1,41. Contoh Soal 3: Varian dan Simpangan Baku Sekaligus Soal: Diketahui data tinggi tanaman dalam satu kelompok adalah: 10, 12, 14, 16, 18 Tentukan: Mean Varian Simpangan baku Pembahasan Langkah 1: Menghitung Mean Jumlah seluruh data: 10 + 12 + 14 + 16 + 18 = 70 Banyak data: 5 Maka: Mean = 70 / 5 = 14 Langkah 2: Menghitung Kuadrat Selisih Data x − 14 (x − 14)² 10 -4 16 12 -2 4 14 0 0 16 2 4 18 4 16 Jumlah 0 40 Langkah 3: Menghitung Varian Karena terdapat lima data: σ² = 40 / 5 σ² = 8 Jadi, variannya adalah 8. Langkah 4: Menghitung Simpangan Baku Simpangan baku merupakan akar dari varian. σ = √8 Karena: √8 = √(4 × 2) maka: σ = 2√2 Jika dibulatkan: σ ≈ 2,83 Jadi, hasil akhirnya adalah: Mean = 14 Varian = 8 Simpangan baku ≈ 2,83 Contoh Soal 4: Data dengan Nilai yang Lebih Bervariasi Soal: Perhatikan data berikut: 4, 6, 8, 10, 12, 14 Hitunglah varian dan simpangan bakunya! Pembahasan Jumlah data: 4 + 6 + 8 + 10 + 12 + 14 = 54 Banyak data: 6 Mean: 54 / 6 = 9 Selanjutnya: Data x − 9 (x − 9)² 4 -5 25 6 -3 9 8 -1 1 10 1 1 12 3 9 14 5 25 Jumlah 0 70 Maka varian: σ² = 70 / 6 σ² = 11,67 Kemudian simpangan baku: σ = √11,67 σ ≈ 3,42 Jadi, varian data adalah sekitar 11,67, sedangkan simpangan bakunya sekitar 3,42. Contoh Soal 5: Menghitung Simpangan Baku dari Data Nilai Siswa Soal: Nilai lima siswa dalam sebuah tes adalah: 70, 75, 80, 85, 90 Tentukan varian dan simpangan bakunya! Pembahasan Pertama, hitung rata-rata: Mean = (70 + 75 + 80 + 85 + 90) / 5 Mean = 400 / 5 Mean = 80 Kemudian hitung kuadrat selisih setiap data. Nilai Selisih dari Mean Kuadrat Selisih 70 -10 100 75 -5 25 80 0 0 85 5 25 90 10 100 Jumlah 0 250 Varian: σ² = 250 / 5 σ² = 50 Simpangan baku: σ = √50 σ = 5√2 σ ≈ 7,07 Jadi, varian data adalah 50 dan simpangan bakunya sekitar 7,07. Contoh Soal 6: Menentukan Varian Jika Simpangan Baku Diketahui Soal: Sebuah kumpulan data memiliki simpangan baku sebesar 6. Tentukan nilai variannya! Pembahasan Hubungan antara varian dan simpangan baku adalah: Simpangan baku = √Varian Karena simpangan baku diketahui sebesar 6, maka: Varian = 6² Varian = 36 Jadi, nilai variannya adalah 36. Soal seperti ini relatif lebih mudah karena tidak perlu menghitung mean dan penyimpangan masing-masing data. Contoh Soal 7: Membandingkan Penyebaran Dua Data Soal: Diketahui dua kelompok data berikut. Kelompok A: 7, 8, 9, 10, 11 Kelompok B: 3, 6, 9, 12, 15 Kelompok manakah yang memiliki penyebaran data lebih besar berdasarkan simpangan baku? Pembahasan Kedua kelompok memiliki mean yang sama. Kelompok A: Mean = 9 Kuadrat selisih: 4 + 1 + 0 + 1 + 4 = 10 Varian: 10 / 5 = 2 Simpangan baku: √2 ≈ 1,41 Untuk Kelompok B: Mean = 9 Kuadrat selisih: 36 + 9 + 0 + 9 + 36 = 90 Varian: 90 / 5 = 18 Simpangan baku: √18 ≈ 4,24 Dari hasil tersebut, terlihat bahwa kedua kelompok memiliki rata-rata yang sama, tetapi penyebarannya berbeda. Kelompok A memiliki simpangan baku sekitar 1,41, sedangkan Kelompok B sekitar 4,24. Artinya, nilai-nilai pada Kelompok B tersebar lebih jauh dari rata-ratanya dibandingkan Kelompok A. Tips Cepat Mengerjakan Soal Simpangan Baku dan Varian Agar tidak mudah salah ketika mengerjakan soal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. 1. Jangan langsung menggunakan rumus simpangan baku Pastikan nilai rata-rata sudah benar terlebih dahulu. Kesalahan pada mean akan memengaruhi seluruh perhitungan berikutnya. 2. Perhatikan tanda negatif Ketika menghitung selisih data dengan mean, hasilnya bisa negatif. Namun, setelah dikuadratkan, hasilnya selalu positif. Misalnya: (6 − 8)² = (-2)² = 4 Bukan -4. 3. Bedakan varian dengan simpangan baku Varian dan simpangan baku memiliki hubungan, tetapi nilainya berbeda. Jika varian = 9, maka: Simpangan baku = √9 = 3 4. Perhatikan apakah data merupakan populasi atau sampel Jika soal meminta varian atau simpangan baku populasi, pembaginya adalah N. Jika soal meminta ukuran sampel dengan rumus sampel, pembaginya adalah n − 1. 5. Gunakan tabel untuk mengurangi kesalahan Untuk data yang cukup banyak, tabel dengan kolom data, selisih dari mean, dan kuadrat selisih akan membuat proses perhitungan lebih teratur. Kesalahan yang Sering Terjadi Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan saat mengerjakan soal simpangan baku dan varian. Pertama, salah menghitung mean. Karena mean menjadi dasar untuk mencari penyimpangan, kesalahan kecil pada tahap ini dapat membuat hasil akhir salah. Kedua, lupa mengkuadratkan selisih. Varian menggunakan kuadrat dari selisih data dengan rata-rata, bukan selisih biasa. Ketiga, salah menentukan pembagi. Untuk populasi digunakan N, sedangkan pada rumus sampel digunakan n − 1. Keempat, menganggap varian sama dengan simpangan baku. Padahal, simpangan baku adalah akar kuadrat dari varian. Kelima, terburu-buru melakukan pembulatan. Sebaiknya gunakan nilai yang lebih presisi selama proses perhitungan dan lakukan pembulatan pada hasil akhir. Kesimpulan Simpangan baku dan varian data tunggal merupakan ukuran yang digunakan untuk mengetahui tingkat penyebaran suatu kumpulan data terhadap nilai rata-ratanya. Varian diperoleh dengan menghitung rata-rata kuadrat selisih setiap data terhadap mean, sedangkan simpangan baku diperoleh dengan mengambil akar kuadrat dari varian. Untuk mengerjakan soal, langkah yang paling aman adalah menghitung mean terlebih dahulu, kemudian mencari selisih setiap data dengan mean, mengkuadratkan selisih tersebut, menjumlahkannya, dan membaginya sesuai jenis data yang digunakan. Setelah mendapatkan varian, simpangan baku dapat diperoleh dengan cara mengambil akar kuadratnya. Dengan memahami alur tersebut, berbagai contoh soal simpangan baku dan varian data tunggal dapat dikerjakan secara lebih mudah dan sistematis. Kunci utamanya bukan hanya menghafal rumus, tetapi memahami hubungan antara rata-rata, penyebaran data, varian, dan simpangan baku.](https://daftarsekolah.spmb.teknokrat.ac.id/wp-content/uploads/2026/09/Gemini_Generated_Image_stezgqstezgqstez.jpeg)


Post Comment