×

Rahasia Mudah Pahami Teorema Faktor Lengkap dengan Contoh Soal dan Pembahasan

Teorema faktor adalah salah satu konsep penting dalam aljabar yang sering muncul dalam pembahasan polinomial. Konsep ini digunakan untuk menentukan apakah suatu bentuk (x−a)(x – a)(x−a) merupakan faktor dari polinomial f(x)f(x)f(x). Banyak siswa menganggap teorema faktor sulit, padahal jika dipahami dengan langkah yang benar, konsep ini sangat mudah diaplikasikan dalam berbagai soal.

Baca juga: Kuasai Soal Essay Prakarya dengan Mudah

Pengertian Teorema Faktor

Teorema faktor menyatakan bahwa suatu polinomial f(x)f(x)f(x) memiliki faktor (x−a)(x – a)(x−a) jika dan hanya jika f(a)=0f(a) = 0f(a)=0. Artinya, apabila kita memasukkan nilai aaa ke dalam fungsi polinomial dan hasilnya nol, maka (x−a)(x – a)(x−a) dapat dikatakan sebagai faktor dari polinomial tersebut.

Sebagai contoh sederhana, jika f(x)=x2−5x+6f(x) = x^2 – 5x + 6f(x)=x2−5x+6, kita bisa menguji nilai x=2x = 2x=2 dan x=3x = 3x=3.

  • f(2)=22−5(2)+6=0f(2) = 2^2 – 5(2) + 6 = 0f(2)=22−5(2)+6=0, berarti (x−2)(x – 2)(x−2) adalah faktor.
  • f(3)=32−5(3)+6=0f(3) = 3^2 – 5(3) + 6 = 0f(3)=32−5(3)+6=0, berarti (x−3)(x – 3)(x−3) juga merupakan faktor.

Maka, f(x)f(x)f(x) dapat difaktorkan menjadi (x−2)(x−3)(x – 2)(x – 3)(x−2)(x−3).

🔖 Baca juga:
Contoh Soal Kesetimbangan Massa pada Proses Industri: Panduan Praktis Menjadi “Akuntan Materi” yang Handal di Tahun 2026

Hubungan Teorema Faktor dan Teorema Sisa

Teorema faktor sangat berkaitan dengan teorema sisa. Teorema sisa menyatakan bahwa jika polinomial f(x)f(x)f(x) dibagi oleh (x−a)(x – a)(x−a), maka sisanya adalah f(a)f(a)f(a).

  • Jika f(a)=0f(a) = 0f(a)=0, maka (x−a)(x – a)(x−a) adalah faktor dari f(x)f(x)f(x).
  • Jika f(a)≠0f(a) \neq 0f(a)=0, maka (x−a)(x – a)(x−a) bukan faktor dari f(x)f(x)f(x).

Keterkaitan ini membantu kita menentukan faktor tanpa perlu melakukan pembagian panjang yang memakan waktu.

Cara Menggunakan Teorema Faktor

Langkah-langkah dasar dalam menggunakan teorema faktor adalah:

  1. Tentukan bentuk polinomial f(x)f(x)f(x).
  2. Pilih nilai aaa yang ingin diuji dari bentuk (x−a)(x – a)(x−a).
  3. Substitusikan nilai aaa ke dalam f(x)f(x)f(x).
  4. Jika hasilnya 0, berarti (x−a)(x – a)(x−a) adalah faktor. Jika tidak, maka bukan.

Contoh Soal 1

Tentukan apakah (x−2)(x – 2)(x−2) merupakan faktor dari f(x)=x3−3×2−4x+12f(x) = x^3 – 3x^2 – 4x + 12f(x)=x3−3×2−4x+12.

Pembahasan:
Substitusikan x=2x = 2x=2.
f(2)=(2)3−3(2)2−4(2)+12f(2) = (2)^3 – 3(2)^2 – 4(2) + 12f(2)=(2)3−3(2)2−4(2)+12
f(2)=8−12−8+12=0f(2) = 8 – 12 – 8 + 12 = 0f(2)=8−12−8+12=0

Karena hasilnya 0, maka (x−2)(x – 2)(x−2) merupakan faktor dari f(x).

Contoh Soal 2

Tentukan nilai aaa agar (x−1)(x – 1)(x−1) menjadi faktor dari f(x)=x3+ax2−3x−af(x) = x^3 + ax^2 – 3x – af(x)=x3+ax2−3x−a.

Pembahasan:
Gunakan teorema faktor dengan x=1x = 1x=1.
f(1)=(1)3+a(1)2−3(1)−a=1+a−3−a=−2f(1) = (1)^3 + a(1)^2 – 3(1) – a = 1 + a – 3 – a = -2f(1)=(1)3+a(1)2−3(1)−a=1+a−3−a=−2

Agar (x−1)(x – 1)(x−1) menjadi faktor, maka f(1)=0f(1) = 0f(1)=0.
Namun di sini hasilnya −2-2−2, yang berarti tidak ada nilai aaa yang membuat hasilnya nol kecuali jika bentuk polinomial diubah. Misalnya, jika bentuknya f(x)=x3+ax2−3x−2af(x) = x^3 + ax^2 – 3x – 2af(x)=x3+ax2−3x−2a, maka:
f(1)=1+a−3−2a=−2−a=0f(1) = 1 + a – 3 – 2a = -2 – a = 0f(1)=1+a−3−2a=−2−a=0
Sehingga diperoleh a=−2a = -2a=−2.

Contoh Soal 3

Tentukan semua faktor dari f(x)=x3−6×2+11x−6f(x) = x^3 – 6x^2 + 11x – 6f(x)=x3−6×2+11x−6.

Pembahasan:
Gunakan teorema faktor untuk menguji beberapa nilai aaa.

  • f(1)=1−6+11−6=0f(1) = 1 – 6 + 11 – 6 = 0f(1)=1−6+11−6=0 → faktor (x−1)(x – 1)(x−1)
  • Lakukan pembagian sintetis untuk menemukan faktor lain: hasil bagi adalah x2−5x+6x^2 – 5x + 6×2−5x+6, yang bisa difaktorkan lagi menjadi (x−2)(x−3)(x – 2)(x – 3)(x−2)(x−3).
    Maka, f(x)=(x−1)(x−2)(x−3)f(x) = (x – 1)(x – 2)(x – 3)f(x)=(x−1)(x−2)(x−3).

Baca juga: Universitas Teknokrat Indonesia dan AMD Indonesia Kolaborasi Hadirkan “AMD Tech Gen 2025: Innovate, Learn, Lead!”

Manfaat Mempelajari Teorema Faktor

Teorema faktor tidak hanya membantu dalam mencari akar-akar polinomial, tetapi juga berguna untuk menyelesaikan soal faktorisasi, menentukan titik potong grafik fungsi, dan memahami konsep dasar fungsi kuadrat atau kubik. Selain itu, konsep ini juga sering digunakan dalam analisis matematis lanjutan seperti sistem persamaan dan pemodelan fungsi.

Penulis: Dena Triana

Post Comment