Bahasa Indonesia sering kali dianggap mudah oleh penutur aslinya. Namun, ketika memasuki ranah formal seperti penulisan artikel, laporan kerja, atau karya ilmiah, banyak dari kita yang terjebak dalam kesalahan penggunaan kata yang dianggap “lumrah” namun sebenarnya keliru menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) atau yang kini bertransformasi menjadi EYD Edisi V.
Memahami kesalahan penggunaan kata bukan hanya soal nilai akademis, melainkan tentang bagaimana kita menyampaikan ide secara presisi dan profesional. Artikel ini akan membedah berbagai kategori kesalahan kata yang paling sering terjadi, lengkap dengan contoh soal dan pembahasannya agar Anda semakin mahir berbahasa Indonesia.
Baca juga: Kumpulan Contoh Soal Menyimpulkan Teks Tanggapan Lengkap Pembahasan
Mengapa Kita Sering Salah Menggunakan Kata?
Sebelum masuk ke contoh soal, kita perlu memahami akar permasalahannya. Ada tiga faktor utama mengapa kesalahan ini terus berulang:
- Interferensi Bahasa Daerah dan Bahasa Gaul: Pengaruh percakapan sehari-hari sering kali terbawa ke dalam tulisan formal.
- Kemiripan Bunyi (Homofon): Kata-kata yang terdengar mirip sering kali dianggap memiliki makna atau penulisan yang sama.
- Ketidaktahuan Aturan Serapan: Banyak kata serapan dari bahasa asing (terutama Inggris) yang diserap secara asal-asalan tanpa merujuk pada KBBI.
Kategori 1: Kata Baku vs Kata Tidak Baku
Ini adalah “lubang jebakan” paling umum. Kata tidak baku biasanya muncul karena kita lebih sering mendengarnya dalam percakapan lisan.
Contoh Soal 1:
Manakah kalimat yang menggunakan kata baku dengan benar?
A. Jadwal praktek dokter spesialis itu sudah penuh hingga bulan depan.
B. Ibu sedang pergi ke apotik untuk membeli obat asma.
C. Kita harus segera menganalisa data hasil penelitian ini.
D. Proyek pembangunan jembatan itu sudah selesai sesuai jadwal.
Pembahasan:
- A salah: Kata baku yang benar adalah praktik, bukan praktek.
- B salah: Kata baku yang benar adalah apotek, bukan apotik.
- C salah: Kata baku yang benar adalah menganalisis, bukan menganalisa (diserap dari analysis).
- D benar: Kata jadwal adalah bentuk baku.
Kategori 2: Penulisan Kata Depan ‘di’ dan Awalan ‘di-‘
Kesalahan ini sangat klasik namun tetap saja sering ditemukan di papan pengumuman hingga artikel digital. Kuncinya sederhana: jika menunjukkan tempat, dipisah; jika sebagai kata kerja pasif, digabung.
Contoh Soal 2:
Pilihlah kalimat dengan penulisan ‘di’ yang tepat!
A. Baju itu dicuci di rumah bibi kemarin sore.
B. Surat itu sudah dikirimkan kearah alamat yang salah.
C. Dimana kamu meletakkan kunci motor itu?
D. Makanan ini dimasak oleh koki profesional dikapur.
Pembahasan:
- A benar: dicuci (pasif, digabung) dan di rumah (tempat, dipisah).
- B salah: kearah seharusnya ditulis ke arah (menunjukkan tujuan/tempat).
- C salah: Dimana seharusnya ditulis Di mana.
- D salah: dikapur seharusnya di dapur.
Kategori 3: Penggunaan Kata Mubazir (Pleonasme)
Pleonasme adalah penggunaan kata yang berlebihan sehingga maknanya tumpang tindih. Dalam penulisan SEO, kalimat yang efektif dan ringkas jauh lebih disukai daripada kalimat yang bertele-tele.
Contoh Soal 3:
Kalimat manakah yang paling efektif dan tidak mubazir?
A. Para guru-guru sedang mengadakan rapat di ruang guru.
B. Kita harus saling tolong-menolong dalam kebaikan.
C. Peserta lomba sudah mulai masuk ke dalam ruangan.
D. Sejak kecil ia sangat rajin sekali membantu orang tuanya.
Pembahasan:
- A salah: Kata Para sudah bermakna jamak, tidak perlu diikuti pengulangan kata guru-guru. Cukup pilih salah satu.
- B salah: Saling dan tolong-menolong memiliki makna yang sama. Cukup gunakan “saling menolong” atau “tolong-menolong”.
- C benar: Meskipun “masuk ke dalam” sering dianggap pleonasme, dalam konteks ini “ke dalam” memperjelas arah. Namun, jika ingin lebih hemat, cukup gunakan “masuk ruangan”. (Catatan: dalam beberapa konteks ketat, ini dianggap pleonasme, namun paling mending dibanding pilihan lain).
- D salah: Sangat dan sekali memiliki fungsi penguat yang sama. Gunakan salah satu saja: “sangat rajin” atau “rajin sekali”.
Kategori 4: Kata yang Mirip tapi Tak Sama (Paronim)
Sering kali kita tertukar antara dua kata yang bunyinya mirip tetapi maknanya berbeda jauh.
Contoh Soal 4:
Lengkapilah kalimat berikut: “Pemerintah sedang berupaya meningkatkan … masyarakat melalui program bantuan langsung.”
A. Kesejahteraan
B. Kesejahtraan
C. Kesahteraan
D. Kesejahtreraan
Pembahasan:
Jawaban yang benar adalah A. Kesejahteraan. Banyak orang sering menghilangkan huruf ‘e’ setelah ‘t’ atau salah meletakkan huruf ‘h’. Penulisan yang tepat berasal dari kata dasar sejahtera.
Kategori 5: Penulisan Kata Serapan yang Salah
Seiring berkembangnya teknologi, banyak istilah asing yang diserap ke bahasa Indonesia. Namun, cara penulisannya sering kali keliru.
Contoh Soal 5:
Manakah penulisan kata serapan yang benar menurut KBBI?
A. Aktifitas, Kreatifitas, Efektifitas
B. Aktivitas, Kreativitas, Efektivitas
C. Aktivitas, Kreatifitas, Efektifitas
D. Aktifitas, Kreativitas, Efektifitas
Pembahasan:
Jawaban yang benar adalah B.
Aturan umumnya: Kata yang dalam bahasa Inggris berakhiran -ity akan diserap menjadi -itas dengan menggunakan huruf v, meskipun kata sifat asalnya menggunakan f (aktif -> aktivitas, kreatif -> kreativitas).
Daftar Kata yang Paling Sering Salah Tulis
Untuk memudahkan Anda belajar, berikut adalah tabel perbandingan kata tidak baku yang sering muncul di soal ujian maupun tulisan sehari-hari:
| Salah (Tidak Baku) | Benar (Baku) |
| Antri | Antre |
| Himbau | Imbau |
| Hutang | Utang |
| Jaman | Zaman |
| Kualitas | Kualitas (Sudah Benar) |
| Kwitansi | Kuitansi |
| Mempengaruhi | Memengaruhi |
| Nasihat | Nasihat (Sudah Benar) |
| Resiko | Risiko |
| Sekedar | Sekadar |
| Silahkan | Silakan |
| Standarisasi | Standardisasi |
Analisis Mendalam: Mengapa “Silahkan” Salah dan “Silakan” Benar?
Ini adalah salah satu kesalahan paling populer. Banyak orang mengira “silahkan” berasal dari kata “silah” yang berarti “sudilah kiranya”. Namun, dalam KBBI tidak ditemukan kata dasar “silah”. Kata yang ada adalah “sila” yang berarti meminta dengan hormat. Oleh karena itu, ketika ditambah akhiran -kan, menjadi silakan. Menambahkan huruf ‘h’ di tengah justru membuatnya menjadi kata yang tidak memiliki akar etimologis dalam bahasa Indonesia.
Analisis Mendalam: “Memengaruhi” vs “Mempengaruhi”
Ini berkaitan dengan hukum K-P-T-S. Jika sebuah kata dasar diawali dengan huruf K, P, T, atau S dan diikuti oleh vokal, maka huruf pertama tersebut harus luluh ketika diberi awalan me-.
- Pengaruh (P + vokal ‘a’) -> Me + pengaruh = Memengaruhi.
- Kumpul (K + vokal ‘u’) -> Me + kumpul = Mengumpul.
- Tulis (T + vokal ‘u’) -> Me + tulis = Menulis.
- Sapu (S + vokal ‘a’) -> Me + sapu = Menyapu.
Kesalahan sering terjadi pada kata “mempunyai” dan “mengkaji”. Khusus untuk “mempunyai”, ini adalah pengecualian yang sudah diterima secara umum (tidak luluh menjadi memunyai). Sedangkan “mengkaji” tetap digunakan untuk membedakannya dengan “mengaji”.
Pentingnya Menggunakan Bahasa Indonesia yang Benar di Era Digital
Dalam dunia digital, algoritma mesin pencari seperti Google semakin cerdas. Mereka mampu mengenali kualitas konten berdasarkan penggunaan bahasa yang baik dan benar. Konten yang penuh dengan typo (salah ketik) atau penggunaan kata yang tidak baku cenderung dianggap kurang otoritatif dan memiliki kualitas rendah.
Selain itu, bagi Anda yang berkarier sebagai content writer atau copywriter, penguasaan kosa kata yang benar akan membantu Anda membangun kepercayaan pembaca. Bahasa yang rapi menunjukkan profesionalitas dan perhatian terhadap detail.
Tips Menghindari Kesalahan Penggunaan Kata
- Gunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring: Sekarang Anda tidak perlu membawa kamus tebal. Cukup akses laman resmi KBBI atau unduh aplikasinya di ponsel.
- Rujuk EYD V: Selalu perbarui pengetahuan Anda tentang aturan ejaan yang terbaru.
- Membaca Buku Berkualitas: Membaca karya sastra atau berita dari media ternama yang memiliki editor bahasa yang ketat akan membantu Anda “terbiasa” melihat penulisan kata yang benar.
- Latihan Soal Secara Konsisten: Seperti halnya matematika, kemampuan bahasa adalah keterampilan yang harus diasah melalui latihan.
- Gunakan Fitur Pemeriksa Ejaan: Beberapa aplikasi pengolah kata kini sudah dilengkapi dengan pendeteksi bahasa Indonesia, gunakan itu sebagai filter awal.
Kesimpulan
Belajar Bahasa Indonesia tidaklah sesederhana yang kita bayangkan saat duduk di bangku sekolah dasar. Kesalahan penggunaan kata sering kali terjadi karena kebiasaan yang sudah mengakar. Namun, dengan terus berlatih membedah contoh soal dan merujuk pada standar yang benar, kita bisa meningkatkan kualitas komunikasi kita, baik secara lisan maupun tulisan.
Memahami perbedaan antara apotek dan apotik, atau di mana dan dimana, mungkin terlihat sepele. Namun, detail kecil inilah yang membedakan seorang amatir dengan seorang profesional dalam dunia literasi. Mari lestarikan bahasa Indonesia dengan menggunakannya secara benar dan bangga.
Penulis: Aripin
Post Comment