Insiden helikopter jatuh di Sungai Barito meninggalkan duka mendalam bagi tim operasi kebencanaan. Satu orang kru yang sebelumnya dilaporkan berada di dalam pesawat akhirnya ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Korban diketahui bernama Yayan Supyansury, seorang warga negara Indonesia.

Lokasi kejadian berada di perairan Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito, tepatnya di wilayah Desa Tabatan Baru, Kecamatan Kahuripan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Kabar penemuan jenazah tersebut pertama kali diterima dari Camat Jenamas, Zulkarnain Masdipura, yang telah berkoordinasi dengan jajarannya di lapangan.

Kronologi Helikopter Jatuh di Sungai Barito

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barito Selatan, Agus In’Yulius, mengungkapkan bahwa informasi tersebut diperoleh pada Minggu. Aparatur kecamatan dan desa langsung bergerak menuju lokasi kejadian.

Titik jatuhnya helikopter berbatasan dengan Desa Tabatan, Kecamatan Jenamas, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Karena itu, koordinasi lintas wilayah dilakukan agar proses evakuasi dapat berjalan lancar.

Helikopter tersebut sedang menjalankan misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan metode pengeboman air atau water bombing. Kecelakaan terjadi ketika pesawat mengambil air dari badan sungai menggunakan bambi bucket.

Sejumlah rekaman video amatir yang beredar memperlihatkan helikopter mendadak kehilangan kendali setelah bermanuver. Beberapa saat setelah mengisi muatan air, wahana udara itu jatuh ke perairan sungai.

Identitas Kru yang Selamat dan Korban

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton SP Panjaitan, menyatakan pesawat tersebut membawa tiga kru penerbangan. Helikopter itu memiliki nomor registrasi VH-HGM.

  • Michael John Betterridge, berkewarganegaraan Australia
  • Hugh Andrew John Page, berkewarganegaraan Selandia Baru
  • Yayan Supyansury, warga negara Indonesia

Yayan bertugas sebagai helikopter landing officer (HLO) dalam operasi tersebut. Dua kru lainnya berhasil diselamatkan setelah kejadian. Jenazah Yayan sendiri masih dalam proses evakuasi saat informasi ini disampaikan.

Pesawat Sewaan untuk Operasi Water Bombing

Helikopter jenis Eurocopter EC225LP Super Puma itu bukan aset milik pemerintah. Berton menjelaskan armada tersebut merupakan pesawat sewaan dari pihak swasta yang digunakan BNPB untuk memperkuat operasi pemboman air di sejumlah titik rawan.

Pesawat dengan Manufacturing Serial Number (MSN) 2878 itu dioperasikan untuk menunjang misi kemanusiaan dan mitigasi bencana. Berdasarkan manifes operasionalnya, rute penerbangan rutin yang kerap dilalui mencakup kawasan strategis seperti Banjarmasin, Pontianak, hingga Surabaya.

Di Indonesia, spesifikasi helikopter komersial ini memang kerap diandalkan dalam penanganan darurat kebencanaan di bawah komando BNPB.

Langkah Penanganan dan Investigasi

Insiden ini langsung dilaporkan kepada Kepala BNPB, Letjen TNI Kristomei Sianturi. Pelaporan itu dilakukan agar penanganan lanjutan dapat dikoordinasikan secara cepat.

Unsur gabungan dari tim terkait masih bersiaga penuh di posko lapangan. Mereka bertugas mengamankan lokasi bangkai pesawat.

Tim investigasi gabungan tengah mengumpulkan berbagai bukti krusial untuk menyusun laporan komprehensif. Laporan tersebut akan memuat kronologi detail serta akar penyebab pasti kecelakaan.

“Sampai detik ini, tim gabungan di lapangan masih bersiaga. Laporan komprehensif yang memuat kronologi detail serta akar penyebab pasti insiden kecelakaan tersebut sedang kami rampungkan untuk segera diumumkan kepada publik serta instansi berwenang,” ujar Berton.

Hingga kini, penyebab pasti insiden helikopter jatuh di Sungai Barito masih ditelusuri oleh tim gabungan di lapangan.

Sumber referensi: kalteng.antaranews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *