Keberadaan pusat perbelanjaan di Indonesia masih terbilang sehat. Meski begitu, perannya perlahan bergeser: bukan lagi semata tempat membeli barang, melainkan ruang untuk berkumpul dan berinteraksi sosial. Pergeseran ini menjadi gambaran bagaimana perilaku masyarakat urban berubah dari waktu ke waktu.
Kunjungan dan Okupansi Pusat Perbelanjaan Masih Terjaga
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menilai kondisi pusat perbelanjaan secara umum tetap stabil, baik dilihat dari jumlah kunjungan maupun tingkat keterisian gerai.
Menurut dia, rata-rata kunjungan ke pusat perbelanjaan masih tumbuh setiap tahun, kendati pertumbuhannya tidak signifikan. Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar berkumpul, dan mal menjadi salah satu tempat favorit untuk melakukannya.
Ia menyebut tingkat okupansi pusat perbelanjaan kini berada di kisaran 85%-90%. Angka tersebut menunjukkan ruang usaha di mal masih banyak terisi, meski perubahan gaya hidup masyarakat, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, turut memengaruhi aktivitas bisnis di dalamnya.
Dari Tempat Belanja Menjadi Hub Koneksi Sosial
Alphonzus menjelaskan, fungsi pusat perbelanjaan saat ini tidak lagi sekadar tempat berbelanja, tetapi lebih sebagai hub koneksi sosial. Orang datang untuk bertemu, mengobrol, mencari hiburan, dan menghabiskan waktu bersama, bukan semata untuk transaksi jual beli.
Pergeseran fungsi itu berjalan beriringan dengan perubahan pola belanja konsumen. Aktivitas berbelanja yang dulu menjadi alasan utama kunjungan kini bergeser menjadi salah satu alasan saja di antara banyak kebutuhan lain.
Tekanan pada Bisnis Supermarket
Salah satu kategori usaha yang merasakan tekanan adalah Hypermart di Mal Depok Town Square (Detos). Beberapa waktu lalu, gerai tersebut dikabarkan menutup operasinya. Alphonzus memperkirakan kondisi serupa masih mungkin berlanjut seiring perubahan tren belanja dan gaya hidup masyarakat.
Ia mengaitkan hal itu dengan dampak wabah Covid-19 yang mengubah cara orang berbelanja. Pada masa pandemi, masyarakat membeli kebutuhan hanya secukupnya dan seperlunya, serta memilih lokasi yang paling dekat dengan rumah karena berbagai pembatasan yang diberlakukan pemerintah.
Akibatnya, kebiasaan berbelanja dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan mingguan atau bulanan di supermarket kini jauh berkurang dibanding sebelumnya. Situasi ini menuntut pelaku usaha supermarket menyesuaikan strategi bisnis dengan kebiasaan konsumen yang terus berkembang.
Penutupan Gerai Bukan Sinyal Bisnis Melemah
Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah menilai penutupan gerai Hypermart di Depok Town Square, Jawa Barat, tidak serta-merta menandakan bisnis perusahaan sedang memburuk.
Menurutnya, mal yang sepi dapat mendorong peritel mencari lokasi lain yang lebih ramai atau mengubah format toko. Peritel besar seperti Hypermart juga menghadapi tantangan untuk menyesuaikan konsep bisnis dengan kondisi pasar yang bergerak dinamis.
Tantangan Menjaga Daya Tarik Pusat Perbelanjaan
Secara keseluruhan, tingkat kunjungan dan keterisian pusat perbelanjaan masih relatif terjaga. Namun, perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi salah satu tantangan bagi pengelola dan penyewa untuk mempertahankan daya tarik serta menyesuaikan model bisnis mereka.
Dinamika ini juga memberi gambaran bahwa persaingan tidak lagi hanya soal harga atau kelengkapan barang. Suasana, kenyamanan, dan pengalaman berkumpul menjadi pertimbangan penting bagi pengunjung ketika memilih mal tujuan.
Bagi pengelola, memahami bahwa pengunjung datang untuk pengalaman sosial menjadi kunci. Bagi peritel, kemampuan membaca ulang kebutuhan konsumen menentukan apakah mereka tetap relevan di ruang yang fungsinya terus berubah ini.
Sumber referensi: www.cnbcindonesia.com