Sekolapedia – 27 Oktober 2026 | Langkah strategis Indonesia dalam mengelola aset negara kini memasuki babak baru melalui kehadiran danantara, sebuah lembaga superholding yang diproyeksikan menjadi motor penggerak ekonomi nasional. Sebagai entitas yang mengonsolidasikan pengelolaan aset negara, Danantara mengadopsi model serupa dengan institusi global seperti Temasek di Singapura atau Khazanah di Malaysia, namun dengan ambisi dan jangkauan investasi yang sangat masif di berbagai sektor strategis.
Chief of Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, baru-baru ini mengungkap deretan investasi jumbo yang tengah dijalankan. Salah satu proyek yang paling mencuri perhatian adalah pengembangan kawasan real estat di Makkah melalui Danantara Investment Management (DIM). Danantara telah merampungkan akuisisi lahan seluas 4,4 hektare di kawasan Thakher Makkah bekerja sama dengan Novotel Thakher Makkah. Proyek ini direncanakan membangun 11 tower tambahan dalam dua tahun ke depan dengan nilai investasi fantastis mencapai USD 500 miliar.
Portofolio Investasi Global dan Strategis
Selain proyek real estat di Timur Tengah, Danantara juga memperluas jejak investasinya ke sektor energi, pangan, hingga transportasi udara. Berikut adalah ringkasan portofolio investasi yang sedang dikelola:
| Sektor | Mitra/Proyek | Nilai Investasi |
|---|---|---|
| Energi (Waste to Energy) | Pengolahan Sampah menjadi Listrik | USD 5 miliar |
| Industri Pangan & Protein | JBS Group (ASEAN, Australia, Selandia Baru) | USD 2,5 miliar |
| Penyewaan Pesawat | SMBC Aviation Capital | USD 800 juta |
| Hulu Migas | HighPeak Energy (Permian Basin, AS) | USD 250 juta |
Diversifikasi ini menunjukkan bahwa Danantara tidak hanya fokus pada pasar domestik, tetapi juga aktif dalam memperebutkan aset-aset produktif di kancah internasional untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Fokus pada Industri Padat Karya dan Kesejahteraan Rakyat
Di dalam negeri, Danantara juga memegang peran krusial dalam penguatan industri manufaktur dan distribusi kebutuhan pokok. Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN, Dony Oskaria, menyatakan bahwa lembaga ini sedang mengkaji pembentukan BUMN tekstil untuk menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Sektor ini menjadi prioritas sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto guna memastikan ketersediaan lapangan kerja di sektor padat karya seperti tekstil, sepatu, dan elektronik.
Dalam rencana tersebut, Danantara mempertimbangkan opsi untuk membangun industri tekstil dari hulu hingga hilir, termasuk kemungkinan mengakuisisi perusahaan tekstil eksisting yang sedang mengalami kesulitan, seperti PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), guna menyelamatkan ekosistem industri dan tenaga kerja yang terdampak.
Selain sektor manufaktur, Danantara juga menyentuh langsung kehidupan masyarakat akar rumput melalui penguatan distribusi barang bersubsidi. Melalui sinergi dengan PT Pertamina Patra Niaga dan Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC), Danantara mendorong Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) menjadi pusat penyaluran utama untuk:
- LPG bersubsidi
- Pupuk bersubsidi
- Minyak goreng MinyaKita
Langkah ini bertujuan agar data distribusi lebih akurat dan tepat sasaran langsung ke tingkat desa, sekaligus menjadikan koperasi sebagai motor penggerak ekonomi di wilayah pedesaan. Dengan integrasi antara investasi global yang masif dan program pemberdayaan ekonomi lokal, Danantara diharapkan mampu menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan aset negara dan pemerataan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
