Krisis Restoran London: Derita Koki Sikh Usai Kontroversi Daging Non-Halal

Sekolapedia – 14 Oktober 2026 | Sebuah restoran kontroversial di London kini menghadapi ancaman penutupan total setelah terlibat dalam pusaran polemik keagamaan yang pelik terkait kebijakan menolak menyajikan daging halal. Pemilik sekaligus koki utama restoran singhs dining by rangrez, Harman Singh Kapoor, secara terbuka merilis permohonan bantuan darurat kepada publik setelah bisnis kulinernya berada di ambang kebangkrutan akibat tekanan finansial dan manipulasi ulasan daring.

Permohonan bantuan tersebut disampaikan Kapoor melalui sebuah unggahan di platform media sosial X pada Senin, 12 Oktober 2026. Dalam pesannya yang menyayat hati, ia mengaku harus menelan harga dirinya demi menyelamatkan mata pencaharian yang telah ia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun. Restoran singhs dining by rangrez saat ini tidak hanya berjuang menghadapi tunggakan sewa tempat yang menumpuk, tetapi juga ancaman proses hukum serius dari pihak pemilik gedung atau landlord.

Krisis yang dialami singhs dining by rangrez bermula dari ketegangan identitas kuliner yang diusung Kapoor. Sebelumnya, Kapoor memimpin restoran India bernama Rangrez di Fulham Palace Road, Hammersmith, London barat, yang telah beroperasi selama sekitar 16 tahun. Restoran tersebut mendadak menjadi sorotan tajam setelah memasang papan penanda di luar ruangan yang secara terang-terangan mendeklarasikan identitas non-halal dengan tulisan, ‘Proudly, we don’t sell Halal’.

Kapoor, seorang penganut Sikh yang taat, menegaskan bahwa kebijakan tersebut berakar pada keyakinan agamanya. Ia dan komunitasnya lebih memilih mengonsumsi daging jhatka, yakni daging dari hewan yang disembelih dengan satu tebasan cepat. Namun, keputusan bisnis yang berlandaskan keyakinan ini justru memicu gelombang kontroversi besar. Pada Februari lalu, Kapoor terpaksa menutup restoran Rangrez karena kombinasi lonjakan biaya operasional, pelecehan secara daring, gangguan keamanan yang berulang, hingga dugaan ancaman dari kelompok tertentu serta minimnya dukungan dari pihak Kepolisian Metropolitan London.

Tidak menyerah pada keadaan, Kapoor kemudian melanjutkan usahanya melalui entitas singhs dining by rangrez. Kendati demikian, bayang-bayang konflik sebelumnya terus mengejar bisnis baru ini. Tantangan terbesar saat ini datang dari ruang digital, di mana Kapoor menuduh raksasa teknologi Google melakukan pembiaran terhadap manipulasi ulasan daring. Menurutnya, sistem penilaian Google secara tidak adil menerima dan meloloskan ulasan bintang satu palsu, sementara ulasan bintang lima asli yang diberikan oleh pelanggan setia justru ditolak atau diblokir.

  • Menurunnya jumlah kunjungan pelanggan akibat rusaknya reputasi digital.
  • Tekanan finansial berat akibat tunggakan sewa bangunan yang belum terselesaikan.
  • Ancaman gugatan hukum lanjutan dari pemilik properti tempat restoran beroperasi.
  • Dugaan sabotase sistem ulasan daring yang merugikan operasional harian.

Hingga saat ini, klaim yang dilayangkan oleh Kapoor terkait dugaan manipulasi ulasan oleh Google belum dapat diverifikasi secara independen, mengingat pihak pengelola mesin pencari tersebut belum memberikan tanggapan resmi dan Kapoor belum menyertakan bukti spesifik dalam unggahannya. Polemik yang menimpa singhs dining by rangrez mencerminkan betapa rentannya bisnis kuliner independen ketika terjebak dalam perdebatan identitas sosial, tekanan ekonomi pasca-pandemi, serta perang opini di ranah digital yang sulit dikendalikan.

Melalui seruan publik terbarunya, Kapoor berharap para pelanggan dan komunitas luas dapat memberikan dukungan nyata, baik melalui reservasi langsung maupun ulasan positif yang objektif, guna menyelamatkan kelangsungan hidup restoran tersebut dari jurang penutupan permanen.

Post Comment