Sekolapedia – 08 Oktober 2026 | Kondisi lingkungan di sejumlah wilayah Indonesia tengah berada dalam titik kritis. Pantauan terhadap kualitas udara hari ini menunjukkan peningkatan polusi yang signifikan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di wilayah Sumatera, Kalimantan, hingga dampak kiriman di Maluku. Kabut asap tebal mulai menyelimuti pemukiman warga, memicu kekhawatiran akan dampak kesehatan jangka panjang maupun ancaman kematian mendadak bagi kelompok rentan.
Di Sumatera Selatan, situasi karhutla telah mencapai level yang sangat mengkhawatirkan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumsel melaporkan adanya 2.590 titik panas (hotspot) per Kamis (8/10/2026). Angka ini menunjukkan penurunan dari hari sebelumnya, namun akumulasi titik panas sejak awal tahun telah menyentuh angka 85.923, yang merupakan rekor tertinggi sejak tahun 2015. Dampak langsung dari banyaknya titik api ini adalah memburuknya kualitas udara hari ini di beberapa kabupaten/kota.
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Sumsel, terdapat tiga wilayah yang masuk dalam zona merah atau kategori berbahaya. Berikut adalah rincian indeks kualitas udara (ISPU) PM2.5 di wilayah tersebut:
| Wilayah | Indeks PM2.5 (Kategori) |
|---|---|
| Kota Palembang | 506 (Berbahaya) |
| PALI | 495 (Berbahaya) |
| Prabumulih | 319 (Berbahaya) |
Selain zona berbahaya, wilayah lain seperti Ogan Ilir, Musi Rawas, dan Muba juga terpantau berada di kategori tidak sehat. Untuk menekan luasnya kebakaran, pemerintah telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan menyemai puluhan ton NaCl, meski tantangan di lapangan tetap besar mengingat banyaknya lahan gambut yang terbakar.
Situasi serupa juga terjadi di Samarinda, Kalimantan Timur. Kabut asap yang pekat memaksa pemerintah daerah mengambil langkah darurat untuk melindungi sektor pendidikan. Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Samarinda, Eko Suprayetno, mengumumkan pemberlakuan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara parsial di wilayah yang terdampak langsung, yakni Kecamatan Sambutan (termasuk Kelurahan Pulau Atas dan Makroman) serta Kecamatan Palaran. Kebijakan ini menyasar jenjang PAUD, TK, SD, hingga SMP guna memitigasi dampak kesehatan akibat penurunan jarak pandang dan buruknya kualitas udara hari ini.
Tragisnya, krisis lingkungan ini mulai memakan korban jiwa. Muncul laporan mengenai kematian warga, termasuk seorang pengemudi ojek online dan seorang guru, yang diduga kuat akibat menghirup asap karhutla pada fase membahayakan. Gejala fisik seperti mata pedih, tenggorokan gatal, dan sesak napas menjadi keluhan umum masyarakat yang terpapar. Hal ini sejalan dengan sorotan dunia internasional, di mana aktivis lingkungan Leonardo DiCaprio turut menyoroti dampak asap yang telah menyentuh jut kor orang.
Tak hanya di Sumatera dan Kalimantan, kabut asap juga mulai dirasakan di Kota Ambon, Maluku. Kepala Dinas Kehutanan Maluku, Haikal Baadila, menjelaskan bahwa asap di Ambon merupakan kiriman dari kebakaran hutan di Papua, Pulau Buru, dan Pulau Seram, bukan berasal dari kebakaran lokal di Pulau Ambon. Meskipun belum masuk kategori darurat di Maluku, masyarakat diminta tetap waspada terhadap perubahan cuaca dan kondisi udara.
Secara keseluruhan, fenomena karhutla tahun ini menciptakan tantangan kesehatan masyarakat yang masif. Masyarakat diimbau untuk meminimalkan aktivitas luar ruangan, menggunakan masker medis atau N95 saat beraktivitas, serta terus memantau pembaruan kualitas udara hari ini melalui kanal resmi BMKG atau Dinas Lingkungan Hidup setempat untuk menghindari risiko kesehatan yang lebih fatal.
Post Comment