Solusi Krisis Gori: Hutan Gunungkidul Kini Jadi Penopang Utama Industri Gudeg Yogyakarta

Solusi Krisis Gori: Hutan Gunungkidul Kini Jadi Penopang Utama Industri Gudeg Yogyakarta

Sekolapedia – 08 Oktober 2026 | Krisis bahan baku nangka muda atau gori yang selama ini menghantui industri kuliner khas Yogyakarta mulai menemui titik terang. Upaya optimalisasi lahan melalui pengembangan pasar nangka bungur dan kawasan hutan di Gunungkidul diharapkan mampu menutup defisit pasokan yang selama ini harus didatangkan dari luar daerah. Langkah strategis ini menjadi angin segar bagi para pedagang gudeg yang selama ini kesulitan mendapatkan stok nangka berkualitas secara mandiri.

Yogyakarta, yang sangat identik dengan kuliner gudeg, ternyata menghadapi tantangan besar dalam hal ketahanan pangan lokal. Berdasarkan data yang dihimpun, kebutuhan nangka muda untuk industri kuliner di Yogyakarta mencapai angka yang cukup fantastis, yakni sekitar sembilan ton per hari. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa produksi lokal dari wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) hanya mampu memenuhi sekitar dua ton per hari. Hal ini menyebabkan terjadinya defisit pasokan sebesar tujuh ton yang selama ini harus dipenuhi dengan mendatangkan nangka dari luar daerah.

Kekurangan pasokan ini bahkan telah memicu dampak yang cukup mengkhawatirkan bagi kelestarian cita rasa tradisional. Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya Keraton Yogyakarta, mengungkapkan bahwa ketersediaan pohon nangka yang menghasilkan gori di Jogja saat ini sangat tidak mencukupi. Kondisi ini memaksa sebagian masyarakat melakukan improvisasi yang ekstrem demi menjaga keberlangsungan ekonomi. Di beberapa wilayah seperti Gunungkidul, karena sulitnya mendapatkan nangka, sebagian warga bahkan mulai menggunakan batang pohon pisang atau gedebok pisang sebagai pengganti gori untuk membuat gudeg.

Menanggapi permasalahan tersebut, sebuah inisiatif besar dilakukan melalui pengembangan kawasan pangan berbasis lingkungan di Gunungkidul. Hutan seluas 87 hektare kini dikembangkan menjadi kawasan budidaya pohon nangka melalui program Hutan Lestari Wanaboga Nangka. Program ini merupakan kolaborasi antara Pertamina Foundation, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY. Melalui pengelolaan pasar nangka bungur yang terintegrasi dengan kawasan hutan ini, diharapkan ketergantungan terhadap pasokan luar daerah dapat dikurangi secara signifikan.

Pengelolaan kawasan ini melibatkan Kelompok Tani Hutan Lestari Wanaboga Nangka yang beranggotakan sekitar 400 petani lokal. Dengan adanya optimalisasi lahan ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan manfaat dari segi ketahanan pangan, tetapi juga peningkatan nilai ekonomi melalui pemanfaatan lahan secara berkelanjutan. Kehadiran pasar nangka bungur di tengah ekosistem hutan ini diproyeksikan menjadi pusat distribusi utama bagi kebutuhan industri kuliner di Yogyakarta.

Berikut adalah ringkasan data mengenai kondisi pasokan nangka muda di Yogyakarta:

Indikator Pasokan Nangka Volume (Per Hari)
Total Kebutuhan Industri Gudeg 9 Ton
Produksi Lokal DIY 2 Ton
Defisit Pasokan (Kebutuhan Luar Daerah) 7 Ton

Komisaris PT Pertamina (Persero), Nanik S. Deyang, menekankan bahwa inisiatif ini adalah bagian dari upaya nyata dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Menurutnya, Yogyakarta harus memiliki sumber bahan baku mandiri agar identitas kulinernya tetap terjaga tanpa harus bergantung pada daerah lain. Pengembangan pasar nangka bungur ini juga selaras dengan arahan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam memanfaatkan kawasan hutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Selain fokus pada ketersediaan gori, perhatian juga perlu diberikan pada pelestarian kuliner tradisional lainnya yang mulai terpinggirkan. GKR Bendara menyoroti beberapa makanan legendaris seperti nasi golong gilig dan dawet sambal dari Kulon Progo yang mulai jarang ditemukan karena kurangnya regenerasi dan promosi. Dengan penguatan sektor bahan baku melalui pasar nangka bungur, diharapkan industri kuliner Yogyakarta tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga mampu memperkenalkan kembali kekayaan sejarah melalui sajian makanan tradisionalnya kepada generasi mendatang.

Secara keseluruhan, langkah pengembangan hutan di Gunungkidul menjadi solusi multifungsi. Selain mengatasi krisis bahan baku gudeg, program ini juga menjaga kelestarian hutan, memperkuat ekonomi petani lokal, dan memastikan bahwa warisan kuliner Yogyakarta tetap dapat dinikmati dengan rasa yang autentik tanpa harus menggantinya dengan bahan alternatif lainnya.

Post Comment