Contoh Soal Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) dan Cara Mengerjakannya

Contoh Soal Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) dan Cara Mengerjakannya

Harga Pokok Penjualan (HPP) merupakan salah satu konsep penting dalam akuntansi dan bisnis. HPP digunakan untuk mengetahui berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang yang kemudian dijual kepada pelanggan. Dengan mengetahui HPP, perusahaan dapat menentukan harga jual, menghitung laba kotor, serta mengevaluasi kondisi keuangan usaha.

Bagi siswa yang sedang mempelajari akuntansi, memahami cara menghitung HPP sangat penting karena materi ini sering muncul dalam tugas maupun ujian. Perhitungan HPP sebenarnya tidak terlalu sulit apabila mengetahui rumus dan langkah-langkahnya. Artikel ini akan membahas pengertian HPP, rumus, komponen yang digunakan, serta contoh soal menghitung HPP dan cara mengerjakannya.

Pengertian Harga Pokok Penjualan (HPP)

Harga Pokok Penjualan atau HPP adalah total biaya yang berkaitan dengan barang yang telah terjual dalam suatu periode. Dalam perusahaan dagang, HPP umumnya berasal dari persediaan barang dagang yang tersedia untuk dijual setelah dikurangi dengan persediaan barang dagang yang masih tersisa pada akhir periode.

Sederhananya, HPP dapat dipahami sebagai biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk mendapatkan barang yang akhirnya berhasil dijual. Nilai HPP nantinya digunakan untuk menghitung laba kotor.

Contohnya, sebuah toko membeli sepatu dengan harga Rp100.000 per pasang dan menjualnya dengan harga Rp150.000. Jika satu pasang sepatu tersebut terjual, maka Rp100.000 menjadi bagian dari HPP, sedangkan selisih antara harga jual dan HPP merupakan laba kotor sebelum memperhitungkan biaya lainnya.

Komponen dalam Perhitungan HPP

Sebelum mengerjakan contoh soal, ada beberapa komponen yang perlu dipahami. Komponen tersebut antara lain persediaan awal, pembelian bersih, dan persediaan akhir.

1. Persediaan awal

Persediaan awal adalah nilai barang dagang yang masih tersedia pada awal periode akuntansi. Nilai ini biasanya berasal dari persediaan akhir periode sebelumnya.

2. Pembelian bersih

Pembelian bersih merupakan jumlah pembelian barang setelah memperhitungkan biaya angkut pembelian, retur pembelian, dan potongan pembelian.

Rumus sederhananya:

Pembelian Bersih = Pembelian + Beban Angkut Pembelian − Retur Pembelian − Potongan Pembelian

3. Persediaan akhir

Persediaan akhir adalah nilai barang yang masih tersedia dan belum terjual pada akhir periode. Persediaan akhir akan mengurangi barang yang tersedia untuk dijual karena barang tersebut belum menjadi bagian dari barang yang terjual.

Rumus Harga Pokok Penjualan

Rumus dasar untuk menghitung HPP perusahaan dagang adalah:

HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih − Persediaan Akhir

Sementara itu, untuk menghitung barang tersedia untuk dijual:

Barang Tersedia untuk Dijual = Persediaan Awal + Pembelian Bersih

Kemudian:

HPP = Barang Tersedia untuk Dijual − Persediaan Akhir

Rumus tersebut dapat digunakan apabila data persediaan awal, pembelian, dan persediaan akhir telah diketahui.

Contoh Soal Menghitung HPP

Soal:

Toko Maju Jaya memiliki persediaan barang dagang pada awal bulan sebesar Rp15.000.000. Selama bulan tersebut, toko melakukan pembelian barang sebesar Rp40.000.000. Toko juga membayar biaya angkut pembelian sebesar Rp2.000.000. Dari pembelian tersebut terdapat retur pembelian sebesar Rp3.000.000.

Pada akhir bulan, berdasarkan hasil pemeriksaan persediaan, diketahui bahwa nilai persediaan akhir adalah Rp12.000.000.

Berapakah Harga Pokok Penjualan Toko Maju Jaya?

Cara Mengerjakan

Langkah 1: Tentukan persediaan awal

Persediaan awal diketahui sebesar:

Rp15.000.000

Langkah 2: Hitung pembelian bersih

Gunakan rumus:

Pembelian Bersih = Pembelian + Beban Angkut − Retur Pembelian

Maka:

Rp40.000.000 + Rp2.000.000 − Rp3.000.000 = Rp39.000.000

Jadi, pembelian bersih Toko Maju Jaya adalah Rp39.000.000.

Langkah 3: Hitung barang tersedia untuk dijual

Rumus:

Barang Tersedia untuk Dijual = Persediaan Awal + Pembelian Bersih

Perhitungannya:

Rp15.000.000 + Rp39.000.000 = Rp54.000.000

Jadi, barang yang tersedia untuk dijual bernilai Rp54.000.000.

Langkah 4: Hitung HPP

Rumus:

HPP = Barang Tersedia untuk Dijual − Persediaan Akhir

Maka:

Rp54.000.000 − Rp12.000.000 = Rp42.000.000

Jadi, Harga Pokok Penjualan Toko Maju Jaya adalah Rp42.000.000.

Contoh Soal HPP yang Lebih Sederhana

Agar lebih mudah memahami konsepnya, perhatikan contoh berikut.

Sebuah toko memiliki persediaan awal sebesar Rp8.000.000. Selama periode berjalan, toko membeli barang dagang sebesar Rp20.000.000. Pada akhir periode, persediaan barang yang belum terjual adalah Rp5.000.000.

Hitunglah HPP!

Jawaban:

Gunakan rumus:

HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih − Persediaan Akhir

Karena tidak ada informasi mengenai retur, potongan, atau biaya angkut, maka pembelian bersih dianggap sama dengan pembelian.

HPP = Rp8.000.000 + Rp20.000.000 − Rp5.000.000

HPP = Rp23.000.000

Jadi, HPP toko tersebut adalah Rp23.000.000.

Contoh Soal HPP dengan Potongan dan Retur

Contoh berikut sedikit lebih kompleks.

Toko Sejahtera memiliki persediaan awal Rp10.000.000. Selama periode berjalan, toko melakukan pembelian sebesar Rp50.000.000. Terdapat retur pembelian Rp4.000.000 dan potongan pembelian Rp1.000.000. Selain itu, toko membayar beban angkut pembelian Rp2.000.000. Persediaan akhir diketahui sebesar Rp15.000.000.

Berapakah HPP?

Pertama, hitung pembelian bersih:

Pembelian Bersih = Pembelian + Beban Angkut − Retur − Potongan

= Rp50.000.000 + Rp2.000.000 − Rp4.000.000 − Rp1.000.000

= Rp47.000.000

Selanjutnya, hitung HPP:

HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih − Persediaan Akhir

= Rp10.000.000 + Rp47.000.000 − Rp15.000.000

= Rp42.000.000

Jadi, HPP Toko Sejahtera adalah Rp42.000.000.

Hubungan HPP dengan Laba Kotor

HPP juga memiliki hubungan yang erat dengan laba kotor. Setelah HPP diketahui, perusahaan dapat menghitung laba kotor dengan rumus:

Laba Kotor = Penjualan Bersih − HPP

Sebagai contoh, apabila sebuah toko memiliki penjualan bersih sebesar Rp70.000.000 dan HPP sebesar Rp42.000.000, maka:

Laba Kotor = Rp70.000.000 − Rp42.000.000

= Rp28.000.000

Artinya, toko memperoleh laba kotor sebesar Rp28.000.000 sebelum dikurangi biaya operasional lainnya.

Tips Mudah Mengerjakan Soal HPP

Agar tidak salah ketika mengerjakan soal menghitung Harga Pokok Penjualan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, perhatikan setiap informasi yang terdapat dalam soal. Jangan langsung memasukkan semua angka ke dalam rumus karena beberapa data, seperti retur pembelian dan potongan pembelian, harus diperhitungkan terlebih dahulu.

Kedua, hitung pembelian bersih apabila soal memberikan informasi mengenai biaya angkut, retur, atau potongan pembelian.

Ketiga, jangan lupa mengurangi persediaan akhir. Persediaan akhir merupakan barang yang belum terjual sehingga tidak termasuk dalam HPP pada periode tersebut.

Keempat, tuliskan proses perhitungan secara berurutan. Cara ini membuat jawaban lebih mudah diperiksa dan mengurangi kemungkinan kesalahan perhitungan.

Kesimpulan

Harga Pokok Penjualan (HPP) merupakan salah satu bagian penting dalam akuntansi perusahaan dagang. HPP menunjukkan biaya yang berkaitan dengan barang yang telah terjual dalam suatu periode. Perhitungan HPP juga membantu perusahaan menentukan laba kotor dan menjadi dasar dalam mengevaluasi kegiatan penjualan.

Rumus dasar yang perlu diingat adalah:

HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih − Persediaan Akhir

Sebelum menghitung HPP, pembelian bersih perlu dihitung dengan memperhatikan pembelian, beban angkut pembelian, retur pembelian, dan potongan pembelian. Dengan memahami setiap komponen dan mengikuti langkah perhitungan secara berurutan, contoh soal menghitung HPP dapat dikerjakan dengan lebih mudah dan tepat.

Materi HPP sangat bermanfaat bagi siswa yang mempelajari akuntansi maupun bagi pemilik usaha karena konsep ini berkaitan langsung dengan perhitungan biaya dan keuntungan dalam kegiatan perdagangan.

Penulis: Shofiya M.P

Post Comment