Sekolapedia – 31 Agustus 2026 | Fenomena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini telah mencapai titik kritis yang mengancam stabilitas ekosistem dan nyawa manusia di berbagai belahan dunia. Mulai dari tindakan kriminal yang disengaja hingga dampak ekstrem fenomena El Niño, ancaman api yang melahap jutaan hektare lahan menuntut respons cepat, baik melalui penegakan hukum yang keras maupun strategi pemulihan ekonomi yang berkelanjutan.
Di Aljazair, situasi mencapai titik didih setelah insiden tragis merenggut 12 nyawa. Presiden Abdelmadjid Tebboune secara tegas menginstruksikan penerapan hukuman mati bagi siapa pun yang terbukti sengaja memicu kebakaran hutan. Langkah drastis ini diambil sebagai respons atas kerusakan masif yang terlihat di timur Algiers. Presiden memerintahkan Menteri Kehakiman untuk segera melakukan amandemen terhadap Kanun Keseksaan paling lambat 15 September mendatang agar hukuman mati dapat segera diberlakukan setelah seluruh proses hukum selesai.
Kondisi serupa namun dengan dimensi yang berbeda tengah melanda Indonesia. Sepanjang periode Januari hingga Juli 2026, Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla telah mencapai 202.004 hektare. Lonjakan ini sangat signifikan, di mana SiPongi mencatat kenaikan luas kebakaran sebesar 366% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Tekanan iklim akibat El Niño yang sangat kuat memperparah keadaan, dengan 90,79% wilayah Indonesia mengalami curah hujan yang sangat rendah.
Tantangan Ekonomi di Balik Asap
Para ahli menekankan bahwa karhutla bukan sekadar masalah pemadaman api, melainkan masalah ekonomi yang kompleks. Ekosistem gambut, yang menjadi lokasi utama kebakaran di wilayah seperti Riau, sangat rentan ketika dikeringkan untuk kepentingan komoditas. Di Riau sendiri, lebih dari 90% lahan yang terbakar merupakan kawasan gambut. Masalah utamanya adalah ketimpangan antara ekonomi ekstraktif yang sudah mapan dengan ekonomi restoratif yang masih bersifat inisiatif kecil.
Untuk mengatasi hal ini, diperlukan pergeseran paradigma dari sekadar memadamkan api menuju ekonomi pencegahan. Berikut adalah langkah strategis yang diusulkan:
- Pembiayaan Afirmatif: Mengarahkan kredit usaha kepada sektor yang mampu mempertahankan tata air gambut.
- Penciptaan Permintaan: Pemerintah perlu menyerap komoditas dari lanskap rawan karhutla, seperti sagu dan hasil perikanan rawa, untuk memberikan kepastian pendapatan bagi masyarakat.
Gerakan Satgas Darat dan Bantuan Kemanusiaan
Di Sumatra Selatan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kini memperkuat Satgas Darat untuk menangani titik api yang tersebar di berbagai wilayah. Mengingat pemadaman udara melalui water bombing memiliki keterbatasan, keterlibatan relawan, Manggala Agni, TNI, dan Polri menjadi kunci utama. Sementara itu, di Jawa Timur, tim gabungan terus berjibaku memadamkan api di kawasan Gunung Arjuno yang telah menghanguskan ratusan hektare hutan.
Di sisi lain, dampak sosial dari kebakaran juga memerlukan perhatian khusus melalui bantuan kemanusiaan. Di Sabah, Malaysia, pemerintah memberikan bantuan total RM3,000 kepada setiap kepala isi rumah yang terdampak kebakaran di Kampung Numbak. Bantuan ini merupakan kolaborasi antara pemerintah negeri, pemerintah persekutuan, dan Yayasan Kebajikan Sabah untuk meringankan beban warga yang kehilangan tempat tinggal.
Secara keseluruhan, penanganan kebakaran hutan dan lahan memerlukan pendekatan multidimensi. Penegakan hukum yang tegas seperti di Aljazair, penguatan satgas darat di Indonesia, serta transformasi kebijakan ekonomi yang mendukung pelestarian ekosistem adalah langkah-langkah krusial untuk mencegah bencana serupa berulang di masa depan. Tanpa adanya keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan perlindungan alam, api akan terus menjadi ancaman nyata bagi peradaban manusia.



Post Comment