Nisan Makam Mertua Mendiang Djaduk Ferianto Dirusak Juru Kunci, Terungkap Motif Mengejutkan di Baliknya

Nisan Makam Mertua Mendiang Djaduk Ferianto Dirusak Juru Kunci, Terungkap Motif Mengejutkan di Baliknya

Sekolapedia – 14 Agustus 2026 | Dunia seni Yogyakarta tengah diselimuti awan mendung setelah kabar pilu menyeruak dari pemakaman umum. Keluarga sedih makam mertua seniman Djaduk dirusak juru kunci di Yogya, sebuah peristiwa yang tidak hanya meninggalkan luka emosional bagi ahli waris, tetapi juga mengungkap sisi lain dari pengelolaan makam berbasis kearifan lokal. Perusakan nisan tersebut terjadi di Pemakaman Umum Pakuncen, Kota Yogyakarta, yang melibatkan nisan ayahanda dari Bernadetta Petra, istri mendiang seniman legendaris Djaduk Ferianto.

Peristiwa ini pertama kali diketahui oleh Petra Ferianto pada Selasa (11/8/2026) saat ia hendak berziarah. Ia merasa sangat terkejut karena nisan ayahandanya, RM. M. Sarprijono, yang telah berada di sana sejak tahun 1971, tampak mengalami kerusakan serius di bagian kepala nisan. Keluarga sedih makam mertua seniman Djaduk dirusak juru kunci di Yogya ini menjadi perhatian publik karena tindakan tersebut dianggap tidak manusiawi bagi makam yang sudah berusia puluhan tahun.

Motif di Balik Perusakan: Masalah Komunikasi dan Iuran

Setelah melalui proses pelaporan ke Polsek Wirobrajan, terungkap bahwa pelaku perusakan adalah seorang juru kunci berinisial S. Melalui mediasi kepolisian, terungkap motif yang cukup mengejutkan. Juru kunci tersebut sengaja merusak nisan agar pihak keluarga mencari keberadaannya. Hal ini dipicu oleh keinginan sang juru kunci untuk menagih uang jasa perawatan atau uang kebersihan makam.

Selama ini, Petra mengaku sering berziarah pada pagi hari, namun ia hampir tidak pernah bertemu dengan petugas atau juru kuncinya secara langsung. Meskipun ia selalu memberikan tanda kasih berupa bunga dan uang kepada petugas kebersihan yang ditemui, ia merasa kesulitan memberikan uang secara langsung kepada pengelola utama karena kendala komunikasi. Akibatnya, juru kunci merasa tidak pernah menerima iuran rutin tersebut.

Keluarga sedih makam mertua seniman Djaduk dirusak juru kunci di Yogya ini pun akhirnya menempuh jalan mediasi. Dalam pertemuan tersebut, terungkap bahwa praktik pungutan ini memang sudah berjalan secara turun-temurun di Makam Kuncen Lama, meskipun tidak memiliki aturan tertulis yang resmi dari pemerintah kota.

Baca juga:
Prabowo Ancaman Tegas: Dapur MBG di Bandung Barat Diperiksa, Hendrik Irawan Dipaksa Tutup!

Hasil Mediasi dan Kesepakatan Damai

Kapolsek Wirobrajan, Kompol Arif Dharmawan, menyatakan bahwa kasus ini telah berakhir dengan damai. Berikut adalah poin-poin kesepakatan yang dicapai dalam mediasi tersebut:

  • Pihak keluarga bersedia membayar Rp 500.000 sebagai bentuk pelunasan ‘utang’ jasa pembersihan makam yang selama ini tidak tersampaikan.
  • Pihak keluarga memberikan Rp 50.000 untuk biaya perbaikan nisan yang rusak.
  • Petra menawarkan sistem iuran bulanan sebesar Rp 100.000 agar komunikasi di masa depan lebih teratur, meskipun sempat terjadi diskusi mengenai perhitungan harian.
  • Juru kunci telah mengembalikan dan memasang kembali kepala nisan yang sebelumnya sempat diambil.

Meskipun masalah hukum telah selesai, rasa kecewa tetap membekas. Petra mengungkapkan bahwa ibundanya yang sudah sepuh merasa sangat sakit hati melihat kondisi makam suaminya yang dirusak. Keluarga sedih makam mertua seniman Djaduk dirusak juru kunci di Yogya ini berharap agar kejadian serupa tidak terulang kembali kepada ahli waris lainnya.

Tanggapan Pemerintah Kelurahan Pakuncen

Menanggapi insiden ini, Lurah Pakuncen, Budhi Riyanto, menjelaskan bahwa pengelolaan Makam Kuncen Lama memang berbasis kearifan lokal yang dikelola oleh para juru kunci secara mandiri. Ia mengakui bahwa praktik pungutan tersebut memang sudah menjadi tradisi turun-temurun di sana.

Pemerintah kelurahan berencana akan menata kembali sistem pengelolaan makam setelah adanya peraturan daerah (Perda) yang lebih mendetail. Hal ini bertujuan agar pengelolaan makam dapat lebih terorganisir dan menghindari gesekan antara pengelola dengan ahli waris di masa mendatang.

Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya komunikasi yang baik antara pengelola fasilitas umum berbasis masyarakat dengan para peziarah. Meskipun keluarga sedih makam mertua seniman Djaduk dirusak juru kunci di Yogya, penyelesaian secara kekeluargaan diharapkan dapat mengembalikan ketenangan di area pemakaman tersebut.

Post Comment