Sekolapedia – 05 Agustus 2026 | Operasi evakuasi terhadap dua pendaki yang ditemukan meninggal dunia di kawasan gunung piramid bondowoso terus dilakukan oleh tim gabungan pada Rabu (5/8/2026). Proses pemindahan jenazah dari lokasi kejadian sempat mengalami penundaan akibat cuaca buruk dan kabut tebal yang menyelimuti area pendakian, sehingga membahayakan keselamatan para petugas di lapangan.
Peristiwa memilukan ini bermula ketika dua orang pendaki dilaporkan hilang kontak saat melakukan aktivitas pendakian. Setelah dilakukan penyisiran intensif oleh Tim SAR Gabungan, kedua korban akhirnya ditemukan pada Selasa (4/8/2026) sekitar pukul 12.13 WIB. Berdasarkan data koordinat penemuan, korban berada di dasar tebing dengan kemiringan ekstrem mencapai 40 derajat dan kedalaman sekitar 60 meter, tepatnya di bawah jalur Punggung Naga.
Identitas Korban dan Kronologi Penemuan
Tim SAR mengidentifikasi kedua korban sebagai berikut:
- Maliya Finda (51): Seorang pendaki wanita asal Wonokromo, Surabaya.
- Irfan Nasrul Laili (35): Pemandu (guide) lokal yang berasal dari Desa Wonosari, Bondowoso.
Kedua korban ditemukan di lokasi yang berjarak kurang lebih 170 meter ke arah tenggara dari titik yang dicurigai sebelumnya. Meskipun posisi korban sudah berhasil dipastikan sejak siang hari pertama, kendala teknis berupa medan yang sempit dan sistem pengamanan (anchoring system) yang rumit membuat proses pengangkatan jenazah tidak bisa dilakukan secara instan.
Upaya Evakuasi dan Koordinasi Lintas Instansi
Guna memastikan keselamatan personel, Kapolres Bondowoso AKBP Dr. Aryo Dwi Wibowo memimpin langsung apel gabungan sebelum memulai proses evakuasi pada Rabu pagi. Operasi ini melibatkan kekuatan besar dari berbagai unsur, di antaranya:
| Unsur Instansi | Peran/Keterlibatan |
|---|---|
| Basarnas Jember & Banyuwangi | Koordinator Operasi SAR |
| Polres Bondowoso & Brimob Jatim | Pengamanan dan bantuan teknis |
| TNI (Kodim 0822) | Bantuan personel lapangan |
| BPBD Bondowoso | Koordinasi bencana dan evakuasi |
| Relawan & Komunitas | Dukungan logistik dan lapangan |
Proses evakuasi dilakukan secara bertahap menggunakan metode estafet. Jenazah terlebih dahulu dibawa menuju jalur Punggung Naga, kemudian diteruskan ke Pos 2, lalu ke Pos 1, sebelum akhirnya dibawa ke RS Bhayangkara untuk proses lebih lanjut. Tim dibagi menjadi tiga regu khusus untuk mempercepat pengangkatan dari dasar jurang di kawasan gunung piramid bondowoso tersebut.
Sosok Maliya Finda: Pendaki Aktif di Usia Senja
Kepergian Maliya Finda menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan kerabatnya. Sosok yang akrab disapa Hj. Finda ini dikenal sebagai individu yang memiliki semangat luar biasa dalam menekuni hobi mendaki gunung meski telah memasuki usia 51 tahun. Menurut keterangan kerabatnya, Wawan, korban merupakan sosok yang sangat aktif dan memiliki ambisi tinggi untuk menaklukkan berbagai puncak gunung.
Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, Maliya rutin menjadwalkan pendakian hampir setiap bulan. Sebelum mengalami musibah di gunung piramid bondowoso, ia tercatat pernah mendaki Gunung Rinjani dan Gunung Lawu. Selain mendaki, ia juga dikenal sebagai pecinta olahraga sepeda ontel yang aktif dalam komunitasnya.
Dugaan sementara menyebutkan bahwa kedua korban terjatuh saat sedang dalam perjalanan turun gunung. Namun, penyebab pasti kematian masih menunggu hasil pemeriksaan medis menyeluruh. Pihak berwenang menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah keselamatan seluruh personel yang bertugas di medan ekstrem gunung piramid bondowoso agar tidak menambah jumlah korban dalam operasi kemanusiaan ini.
Tragedi ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang mendadak serta kesiapan teknis saat melakukan pendakian di medan dengan kemiringan ekstrem. Tim SAR akan terus berjaga hingga seluruh proses pemulangan jenazah ke rumah duka selesai dilakukan dengan aman.



Post Comment