Sekolapedia – 05 Agustus 2026 | Fenomena mati listrik yang terjadi secara sporadis di berbagai wilayah Indonesia belakangan ini mulai memicu kekhawatiran mendalam di tengah masyarakat. Mulai dari pemeliharaan rutin di Banjarmasin hingga gangguan sistem di Palangka Raya, ketidakpastian pasokan energi menjadi isu krusial yang menuntut perhatian serius dari pemerintah dan penyedia layanan kelistrikan nasional.
Di Kalimantan Selatan, PT PLN (Persero) ULP Ahmad Yani mengumumkan jadwal pemadaman sementara di wilayah Kota Banjarmasin pada Rabu, 5 Agustus 2026. Pemadaman ini dijadwalkan berlangsung mulai pukul 15.00 hingga 18.30 WITA, yang berdampak pada sejumlah kawasan seperti Mantuil, Jalan Gubernur Soebardjo, Lingkar Selatan, Basirih, hingga Antasan Bondan. Langkah ini diambil sebagai upaya pemeliharaan sistem guna menjaga keandalan jaringan distribusi jangka panjang.
Kondisi serupa juga terjadi di Kalimantan Tengah. Warga Palangka Raya harus menghadapi gangguan sistem kelistrikan yang menyebabkan pemadaman di wilayah kerja ULP Palangka Raya Timur pada pagi hari (08.00–11.00 WIB) dan ULP Palangka Raya Barat pada malam hari (20.00–23.00 WIB). Gangguan ini bahkan berdampak pada layanan publik penting, termasuk kantor PT Telkom, yang menegaskan betapa vitalnya stabilitas energi bagi aktivitas perkantoran dan usaha.
Menanggapi kerentanan sistem kelistrikan yang masih sangat bergantung pada pembangkit terpusat, Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan (SUSTAIN) mendesak pemerintah untuk segera mengevaluasi kebijakan kuota Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap. Adila Isfandiari, Lead Researcher SUSTAIN, menekankan bahwa pembatasan kuota PLTS bagi rumah tangga justru menghambat ketahanan energi. Menurutnya, pemanfaatan energi surya mandiri dapat menjadi solusi efektif untuk mengurangi risiko mati listrik secara masif karena masyarakat memiliki sumber energi alternatif saat jaringan utama mengalami gangguan.
Presiden Prabowo Subianto sendiri sebelumnya telah menargetkan percepatan pembangunan PLTS hingga kapasitas 100 Giga Watt (GW) dalam beberapa tahun ke depan guna memperkuat transisi energi bersih. Jika kebijakan kuota PLTS Atap dihapuskan, diharapkan masyarakat dapat berkontribusi aktif dalam menciptakan sistem kelistrikan yang lebih terdesentralisasi dan tangguh.
Krisis energi bukan hanya masalah lokal. Di kancah internasional, Kuba sedang mengalami kondisi yang disebut sebagai ‘kiamat kecil’ akibat kegagalan jaringan listrik nasional yang berulang. Infrastruktur yang menua dan kelangkaan bahan bakar membuat negara tersebut lumpuh total, bahkan di tengah cuaca panas ekstrem. Hal ini menjadi peringatan keras bagi negara lain mengenai dampak fatal dari sistem kelistrikan yang rapuh.
Sembari menunggu perbaikan sistemik dari pemerintah, masyarakat juga dapat mengambil langkah mandiri untuk mengelola konsumsi energi agar tidak membebani biaya bulanan. Berikut adalah beberapa tips efisiensi energi di rumah:
- Hindari Beban Siluman (Phantom Load): Cabut kabel peralatan elektronik seperti microwave atau pembuat kopi jika tidak digunakan, karena arus listrik tetap mengalir meski alat dalam kondisi mati.
- Kelola Penggunaan Kulkas: Jangan memasukkan makanan panas langsung ke dalam kulkas karena akan memaksa kompresor bekerja ekstra keras. Selain itu, jaga kapasitas kulkas agar tidak terlalu penuh atau terlalu kosong untuk sirkulasi udara yang optimal.
- Gunakan Terminal Listrik Ber-saklar: Memudahkan pemutusan aliran listrik secara total hanya dengan satu tombol.
Secara keseluruhan, tantangan stabilitas energi memerlukan sinergi antara pemeliharaan infrastruktur oleh PLN, kebijakan pemerintah yang mendukung energi terbarukan, serta kesadaran masyarakat dalam penggunaan energi secara bijak. Tanpa langkah integratif, ancaman gangguan pasokan akan terus menjadi bayang-bayang bagi produktivitas ekonomi dan kenyamanan hidup masyarakat.



Post Comment