Daftar Isi
Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, “wawancara” seringkali menjadi salah satu materi yang paling dianggap remeh. Banyak siswa berpikir, “Ah, wawancara kan hanya tanya-jawab.” Padahal, di balik kesederhanaan formatnya, wawancara adalah sebuah seni dan keterampilan kompleks yang menggabungkan kemampuan menyimak, berbicara, berpikir kritis, menulis, dan beretika.
Ketika materi ini diubah menjadi “soal” dalam ujian, baik itu Ujian Sekolah, Penilaian Tengah Semester (PTS), atau Penilaian Akhir Semester (PAS), bentuknya tidak lagi sesederhana “lakukan wawancara”. Soal-soal tersebut dirancang untuk menguji pemahaman Anda secara mendalam, mulai dari perencanaan, analisis teks, hingga penerapan etika. Anda tidak hanya dituntut untuk bisa bertanya, tetapi juga mengerti mengapa dan bagaimana pertanyaan itu disusun, serta apa yang harus dilakukan dengan jawaban yang didapat.
Memahami cara kerja wawancara secara akademis adalah kunci. Ini bukan sekadar percakapan biasa; ini adalah percakapan yang memiliki tujuan, struktur, dan kaidah. Artikel ini akan membedah tuntas berbagai tipe contoh soal wawancara yang sering muncul dalam pelajaran Bahasa Indonesia, lengkap dengan pembahasan mendalam agar Anda siap menghadapi segala bentuk ujian.
baca juga:Panduan Lengkap Contoh Soal Ukom Hemodialisa: Siap Hadapi
Baca juga:A-League Men: Panduan Lengkap Sejarah, Format, dan Kebangkitan Sepak Bola Australia
Memahami Tiga Pilar Ujian Wawancara
Sebelum masuk ke contoh soal, kita harus paham bahwa guru atau pembuat soal biasanya menguji tiga pilar kompetensi wawancara:
- Pemahaman Konseptual (Teori): Apakah Anda tahu apa itu wawancara, jenis-jenisnya, fungsinya, dan langkah-langkah persiapannya?
- Analisis Teks (Keterampilan Membaca): Jika diberi sebuah transkrip wawancara, dapatkah Anda mengidentifikasi unsur-unsurnya (5W+1H), menemukan fakta utama, dan menganalisis bahasa yang digunakan?
- Keterampilan Praktis (Aplikasi): Dapatkah Anda menyusun daftar pertanyaan yang baik, memahami etika, dan mengubah hasil wawancara menjadi sebuah laporan (narasi)?
Mari kita bedah satu per satu melalui contoh soal.
Tipe Soal 1: Pemahaman Konsep dan Perencanaan
Tipe soal ini adalah fondasi. Anda diuji sejauh mana Anda memahami teori dasar wawancara. Bentuknya bisa pilihan ganda atau esai singkat.
Contoh Soal 1 (Pilihan Ganda – Identifikasi Langkah) Seorang siswa ditugaskan untuk mewawancarai seorang perajin batik lokal untuk majalah dinding sekolah. Setelah menentukan tema dan narasumber, langkah selanjutnya yang paling penting untuk dilakukan siswa tersebut adalah… A. Menyiapkan kamera dan alat perekam agar tidak lupa. B. Langsung datang ke lokasi perajin batik kapan saja. C. Menghubungi narasumber untuk membuat janji dan mengonfirmasi kesediaan. D. Menyusun laporan hasil wawancara dalam bentuk narasi.
Pembahasan Tuntas: Jawaban yang benar adalah C. Soal ini menguji pemahaman tentang urutan perencanaan.
- (A) Penting, tetapi tidak sepenting (C). Anda tidak bisa menyiapkan alat jika belum tahu kapan dan di mana wawancaranya.
- (B) Ini tidak etis. Narasumber punya kesibukan dan harus dihargai waktunya.
- (D) Ini adalah langkah terakhir setelah wawancara selesai. Oleh karena itu, setelah topik (tema) dan narasumber (perajin batik) jelas, etika dasar mengharuskan kita untuk menghubungi narasumber terlebih dahulu untuk meminta izin, menjelaskan tujuan, dan menyepakati waktu serta tempat.
Contoh Soal 2 (Esai – Teori) Wawancara dapat dibagi berdasarkan tingkat kebebasan pewawancara dalam bertanya. Jelaskan perbedaan mendasar antara wawancara terstruktur (terpimpin) dan wawancara tidak terstruktur (bebas)!
Pembahasan Tuntas: Soal ini meminta Anda membandingkan dua konsep kunci. Jawaban yang baik harus mencakup poin-poin berikut:
- Wawancara Terstruktur (Terpimpin): Pewawancara telah menyiapkan daftar pertanyaan yang baku, rinci, dan urutannya tidak boleh diubah. Pertanyaannya seringkali bersifat tertutup (ya/tidak) atau pilihan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan data yang seragam dari banyak narasumber, misalnya dalam survei atau penelitian kuantitatif. Pewawancara tidak boleh keluar dari skrip.
- Wawancara Tidak Terstruktur (Bebas): Pewawancara hanya memiliki gambaran umum (garis besar) tentang topik yang akan dibahas. Pertanyaan mengalir secara alami berdasarkan jawaban narasumber. Tujuannya adalah untuk menggali informasi secara mendalam, memahami perspektif, atau mengeksplorasi cerita personal narasumber. Ini lebih mirip percakapan mendalam dan sering digunakan dalam jurnalisme investigatif atau biografi.
Tipe Soal 2: Analisis Teks Wawancara
Ini adalah tipe soal yang paling umum. Anda akan disajikan sebuah kutipan transkrip wawancara, lalu Anda diminta untuk “membedah” isinya.
Contoh Soal 3 (Analisis Teks) Perhatikan kutipan wawancara berikut!
Pewawancara: “Selamat pagi, Bu. Kami dari OSIS SMAN 1 Jaya. Kami dengar Ibu adalah pelopor gerakan ‘Bank Sampah’ di kelurahan ini. Bisa diceritakan, Bu, apa yang awalnya memotivasi Ibu?” Narasumber: “(Tersenyum) Pagi, Nak. Wah, motivasinya sederhana saja. Saya ini pusing melihat sampah plastik menumpuk di depan rumah setiap hari. Sungai dekat sini juga mampet. Saya pikir, ini tidak bisa dibiarkan. Daripada mengeluh, lebih baik bergerak. Ya sudah, saya mulai ajak tetangga kumpul botol, eh, ternyata bisa dijual dan jadi uang tambahan.” Pewawancara: “Luar biasa! Berarti dimulai tahun berapa, Bu, gerakan ini?” Narasumber: “Dimulainya itu sekitar tahun 2019, pas sebelum pandemi.”
Pertanyaan:
- Identifikasilah unsur ADIK SIMBA (Apa, Di mana, Kapan, Siapa, Mengapa, Bagaimana) yang dapat ditemukan dalam kutipan di atas!
- Tulislah satu kalimat fakta dan satu kalimat opini dari jawaban narasumber!
Pembahasan Tuntas:
- Analisis ADIK SIMBA (5W+1H):
- Apa (What): Gerakan ‘Bank Sampah’.
- Di mana (Where): Di kelurahan (implisit dari “kelurahan ini”).
- Kapan (When): Dimulai sekitar tahun 2019.
- Siapa (Who): Narasumber (Ibu pelopor) dan Pewawancara (OSIS SMAN 1 Jaya).
- Mengapa (Why): (Motivasi) Pusing melihat sampah menumpuk dan sungai mampet; ingin bergerak daripada mengeluh.
- Bagaimana (How): (Proses awal) Mengajak tetangga mengumpulkan botol untuk dijual.
- Fakta vs. Opini:
- Fakta: “Dimulainya itu sekitar tahun 2019…” (Ini adalah data waktu yang dapat diverifikasi). Atau “saya mulai ajak tetangga kumpul botol…” (Ini adalah kejadian yang terjadi).
- Opini: “Saya ini pusing melihat sampah…” (Perasaan “pusing” bersifat subjektif). Atau “Ini tidak bisa dibiarkan.” (Ini adalah penilaian atau pandangan pribadi).
baca juga:Ketua Aptisi Soroti Sistem Pendidikan Tinggi, Singgung Peran Nasrullah Yusuf di Rakornas Aptikom
Tipe Soal 3: Keterampilan Praktis dan Etika
Tipe soal ini menguji kemampuan aplikasi Anda. Anda tidak menganalisis, tetapi membuat atau mengevaluasi proses wawancara.
Contoh Soal 4 (Menyusun Pertanyaan) Seorang siswa akan melakukan wawancara dengan seorang dokter anak mengenai topik “Bahaya Kecanduan Gawai (Gadget) pada Anak Usia Dini”. Buatlah 3 (tiga) contoh pertanyaan yang baik untuk wawancara tersebut!
Pembahasan Tuntas: Soal ini menguji kemampuan membuat pertanyaan yang terbuka (open-ended), spesifik, dan tidak menggurui.
- Contoh Pertanyaan Buruk (Hindari ini):
- “Apakah kecanduan gawai itu berbahaya, Dok?” (Pertanyaan tertutup, jawabannya hanya Ya/Tidak).
- “Benar kan, Dok, kalau anak-anak sekarang jadi bodoh karena main HP?” (Pertanyaan menggurui/leading question, sudah ada asumsi).
- Contoh Pertanyaan Baik (Jawaban yang Diharapkan):
- “Secara medis, apa saja dampak negatif yang paling sering Dokter temui pada anak usia dini yang terlalu banyak terpapar gawai?” (Spesifik, meminta data/fakta medis).
- “Pada usia berapa idealnya seorang anak boleh mulai diperkenalkan dengan gawai, dan bagaimana batasan yang sehat menurut Dokter?” (Meminta panduan/solusi).
- “Banyak orang tua menggunakan gawai agar anaknya tenang. Menurut Dokter, apa langkah alternatif yang lebih baik untuk menenangkan anak selain memberikan gawai?” (Fokus pada solusi praktis).
Contoh Soal 5 (Studi Kasus Etika) Saat sedang melakukan wawancara dengan seorang atlet yang baru saja kalah dalam pertandingan penting, narasumber tersebut tiba-tiba terlihat sedih dan menangis. Sebagai pewawancara yang beretika, apa tindakan yang seharusnya Anda lakukan? A. Tetap melanjutkan pertanyaan agar mendapatkan respons emosional yang dramatis. B. Langsung mematikan alat rekam dan menghentikan wawancara selamanya. C. Menawarkan jeda sejenak, mematikan alat rekam sementara, dan menunjukkan empati (misal: menawarkan tisu atau air minum). D. Mengalihkan pembicaraan ke topik lain yang lebih ringan dan lucu.
Pembahasan Tuntas: Jawaban yang benar adalah C. Soal ini menguji etika dan empati.
- (A) Tidak etis. Ini mengeksploitasi narasumber demi konten.
- (B) Terlalu ekstrem. Mungkin narasumber hanya butuh waktu sejenak dan masih bersedia melanjutkan setelah tenang.
- (D) Bisa jadi pilihan, tetapi (C) lebih tepat karena menunjukkan respek secara langsung. Mematikan alat rekam sementara adalah tanda bahwa Anda menghargai privasi emosional narasumber dan membangun kepercayaan. Wawancara harus mengutamakan kenyamanan narasumber (informed consent) di atas segalanya.
penulis:Elsandria Aurora


Post Comment