Dendam Malvinas Menggema Lagi! Argentina Hempaskan Inggris di Semifinal Piala Dunia 2026, Beckham Disoraki!

Dendam Malvinas Menggema Lagi! Argentina Hempaskan Inggris di Semifinal Piala Dunia 2026, Beckham Disoraki!

Sekolapedia – 17 Juli 2026 | Momen emosional mewarnai semifinal Piala Dunia 2026 saat Argentina kembali berhadapan dengan Inggris. Pertandingan ini bukan sekadar perebutan tiket final, melainkan panggung yang kembali membangkitkan luka sejarah, terutama terkait sengketa Kepulauan Malvinas (Falklands). Euforia turnamen akbar ini seolah menjadi magnet yang menarik kembali narasi perseteruan abadi antara kedua negara, yang bahkan telah membayangi laga-laga sebelumnya, termasuk yang paling ikonik, inggris vs argentina 1998.

Pertemuan kali ini menjadi bukti bahwa sejarah tetap menjadi ‘pemain kedua belas’ di lapangan hijau. Rivalitas Inggris dan Argentina telah membentang jauh melampaui batas waktu, berakar dari sengketa kedaulatan atas Kepulauan Malvinas yang dimulai sejak 1833. Puncaknya adalah Perang Malvinas pada tahun 1982, sebuah konflik brutal yang meninggalkan luka mendalam bagi kedua belah pihak. Kemenangan Inggris kala itu menjadi simbol pertahanan wilayah dan penguatan politik Margaret Thatcher, sementara bagi Argentina, kekalahan tersebut menjadi simbol harga diri bangsa yang terluka dan belum pulih.

Luka sejarah ini kembali terasa saat mantan kapten Timnas Inggris, David Beckham, hadir di tribun VIP untuk menyaksikan laga semifinal. Momen ketika wajahnya tertangkap kamera dan muncul di layar raksasa stadion disambut sorakan ‘boo’ dari para pendukung Argentina. Insiden ini dengan cepat menyebar di media sosial, mengingatkan publik pada salah satu pertandingan paling dramatis dalam sejarah pertemuan kedua negara: babak 16 besar Piala Dunia 1998 di Prancis. Kala itu, kartu merah yang diterima Beckham setelah insiden dengan Diego Simeone menjadi titik balik yang akhirnya membuat Inggris tersingkir. Momen inggris vs argentina 1998 tersebut masih membekas kuat dalam ingatan kolektif kedua tim dan penggemar.

Di lapangan, pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 berlangsung sengit. Argentina sempat tertinggal lebih dulu pada menit ke-55 melalui gol Anthony Gordon. Namun, tim Tango menunjukkan mental juara dengan bangkit menyamakan kedudukan lewat tendangan spektakuler Enzo Fernandez pada menit ke-85. Puncaknya, Lionel Messi, sang megabintang berusia 39 tahun, melepaskan umpan silang akurat yang disundul oleh Lautaro Martinez menjadi gol kemenangan di menit-menit akhir, memastikan Argentina menang 2-1.

Kemenangan ini memiliki makna ganda bagi Argentina. Di satu sisi, ini adalah pencapaian luar biasa yang membawa mereka ke final Piala Dunia untuk kedua kalinya secara beruntun. Di sisi lain, kemenangan ini juga menjadi ajang untuk menegaskan kembali identitas nasional dan memori kolektif. Lionel Messi sendiri mengungkapkan betapa istimewanya pertandingan ini. “Kemenangan ini luar biasa,” ujarnya kepada TyC Sports. “Sejak awal, kami mengatakan bahwa meskipun ini adalah pertandingan sepak bola, saat kami melangkah ke lapangan dan menyanyikan lagu kebangsaan, seluruh tim merasakan emosi yang sangat istimewa.” Pernyataan ini menggemakan semangat yang sama seperti saat menghadapi Inggris di masa lalu, termasuk momen inggris vs argentina 1998 yang penuh drama.

🔖 Baca juga:
Transfer Marcus Rashford ke Barca Mandek, Manchester United Ubah Strategi

Suasana jelang dan sesudah pertandingan kian memanas akibat kontroversi seputar Kepulauan Falkland. Setelah mengalahkan Swiss di perempat final, para pemain dan pendukung Argentina sempat menyanyikan yel-yel terkait Las Malvinas, yang memicu kritik dari veteran Inggris. Setelah kemenangan atas Inggris di semifinal, para pemain Argentina kembali membentangkan spanduk terkait Las Malvinas saat merayakan kemenangan. Hal ini menunjukkan betapa isu Malvinas masih sangat sensitif dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Argentina, bahkan dalam konteks sepak bola.

Secara taktis, Argentina mendominasi jalannya pertandingan dengan catatan 15 tembakan dan nilai *expected goals* (xG) sebesar 1,84, berbanding lima tembakan dengan xG 0,53 milik Inggris. Namun, fokus utama justru tertuju pada keputusan pelatih Inggris, Thomas Tuchel. Pendekatan yang dianggap terlalu defensif setelah unggul, termasuk perubahan formasi menjadi lima bek, dinilai menjadi biang keladi kekalahan The Three Lions. Strategi ini justru memberikan ruang lebih bagi Argentina untuk menguasai bola dan akhirnya membalikkan keadaan.

Kekalahan ini mengakhiri harapan Inggris untuk meraih trofi internasional pertama sejak Piala Dunia 1966. Mereka kini harus puas bertanding di perebutan tempat ketiga melawan Prancis, sementara Argentina melaju ke final untuk menghadapi Spanyol. Pertandingan antara Inggris dan Argentina, seperti yang ditunjukkan oleh insiden Beckham pada inggris vs argentina 1998 dan sorakan suporter di Piala Dunia 2026, akan selalu menjadi lebih dari sekadar pertandingan sepak bola. Ia adalah cerminan dari sejarah, identitas, dan memori kolektif yang terus hidup dan diperjuangkan.

Pertemuan inggris vs argentina 1998 memang menjadi salah satu babak paling dikenang dalam rivalitas kedua negara. Namun, seiring berjalannya waktu, narasi tersebut terus berkembang, dan Piala Dunia 2026 membuktikan bahwa api perseteruan, yang dipicu oleh berbagai faktor sejarah dan politik, masih terus menyala setiap kali kedua raksasa sepak bola ini bersua di lapangan hijau.

Post Comment