Millwall vs Rival Terbesar: Sejarah Persaingan Sengit yang Masih Berlanjut

Millwall vs Rival Terbesar: Sejarah Persaingan Sengit yang Masih Berlanjut

Dalam jagat sepak bola Inggris, ada rivalitas yang lahir karena perebutan trofi, ada yang tercipta karena kedekatan geografis, dan ada pula yang lahir dari benturan sosial kelas pekerja. Persaingan antara Millwall FC dan rival terbesar mereka, West Ham United, berada di kategori terakhir—sebuah perseteruan berdarah, mendalam, dan menjadi salah satu yang paling ditakuti dalam sejarah sepak bola dunia.

Dikenal luas dengan sebutan “Dockers Derby”, bentrokan antara The Lions (Millwall) dan The Hammers (West Ham) bukan sekadar drama 90 menit di atas lapangan hijau. Ini adalah simbol perpecahan komunitas, kebanggaan wilayah, dan warisan sejarah kelam yang membentang lebih dari satu abad di kawasan East End, London.

Berikut adalah ulasan mendalam mengenai sejarah, akar konflik, hingga bagaimana persaingan sengit ini tetap membara hingga era modern saat ini.

Akar Sejarah: Konflik Kaum Buruh di Tepian Sungai Thames

Untuk memahami mengapa pendukung Millwall dan West Ham begitu saling membenci, kita harus mundur ke akhir abad ke-19. Kedua klub ini lahir dari rahim yang sama: komunitas kelas pekerja keras di pelabuhan (docklands) Sungai Thames, London.

🔖 Baca juga:
Shamrock Rovers dan Kontroversi Pertandingan Sepak Bola Irlandia vs Israel
  • Millwall FC didirikan pada tahun 1885 oleh para pekerja pabrik selai J.T. Morton di Isle of Dogs.
  • West Ham United (awalnya bernama Thames Ironworks) didirikan pada tahun 1895 oleh para pekerja galangan kapal dan besi.

Jarak geografis kedua klub awalnya hanya terpisah kurang dari tiga mil. Konflik pertama justru tidak terjadi di lapangan, melainkan di tempat kerja. Para suporter kedua tim adalah buruh pelabuhan saingan yang bekerja untuk perusahaan yang berbeda. Mereka bersaing memperebutkan kontrak kerja yang sama demi menyambung hidup di tengah kerasnya atmosfer industrialisasi London saat itu.

Titik Didih: Pemogokan Massal Tahun 1926

Momen yang mengubah rivalitas ini dari persaingan kerja menjadi kebencian mendalam terjadi pada peristiwa General Strike (Pemogokan Umum) tahun 1926.

Ketika mayoritas buruh di wilayah West Ham melakukan mogok kerja sebagai bentuk solidaritas nasional, para buruh di pelabuhan Millwall memilih untuk tetap bekerja. Bagi komunitas West Ham, tindakan suporter Millwall dianggap sebagai sebuah pengkhianatan besar. Luka sosial inilah yang kemudian dibawa ke dalam stadion dan diturunkan dari generasi ke generasi, menciptakan tembok permusuhan yang tak pernah runtuh.

Kronologi Pertemuan Ikonik dan Head-to-Head

Pertemuan kompetitif pertama kedua tim terjadi pada 9 Desember 1899 di ajang FA Cup, di mana Millwall Athletic berhasil mengalahkan Thames Ironworks dengan skor 2-1. Sejak saat itu, setiap laga yang mempertemukan keduanya selalu berjalan dengan tensi tinggi.

Meskipun dalam beberapa dekade terakhir kedua tim jarang berada di kasta liga yang sama karena West Ham lebih sering berada di Premier League dan Millwall di EFL Championship, sejarah mencatat rekor pertemuan yang sangat ketat:

KategoriCatatan Sejarah
Total Pertandingan Resmi99 Pertandingan
Kemenangan Millwall38 Kali Menang
Kemenangan West Ham34 Kali Menang
Hasil Imbang27 Kali Seri
Kemenangan TerbesarWest Ham 1–7 Millwall (2 April 1903)

Secara statistik keseluruhan, Millwall masih memegang keunggulan tipis atas tetangga mereka tersebut. Namun, angka di atas kertas tidak pernah cukup untuk menggambarkan panasnya atmosfer pertandingan sesungguhnya.

Era Hooliganisme: Bushwackers vs Inter City Firm

Pada era 1970-an hingga 1980-an, sepak bola Inggris diracuni oleh maraknya fenomena suporter garis keras (hooliganism). Rivalitas Millwall vs West Ham menjadi episentrum dari lingkaran kekerasan ini.

Kedua klub memiliki firma suporter garis keras yang sangat ditakuti di seantero Inggris:

  1. Millwall Bushwackers: Terkenal dengan reputasi militan, agresif, dan jargon mereka yang terkenal di seluruh dunia: “No one likes us, we don’t care” (Tidak ada yang menyukai kami, kami tidak peduli).
  2. Inter City Firm (ICF) West Ham: Firma terorganisir yang kerap menggunakan kereta api komersial inter-city untuk mengelabui kawalan polisi saat laga tandang.

Salah satu tragedi tergelap terjadi pada tahun 1976, ketika seorang suporter Millwall bernama Ian Pratt tewas di Stasiun New Cross setelah terjatuh dari kereta akibat bersitegang dengan suporter West Ham. Kematian ini menyulut api dendam yang membuat laga-laga berikutnya bertransformasi menjadi medan pertempuran di jalanan London.

Budaya persaingan suporter garis keras ini bahkan begitu legendaris hingga menginspirasi berbagai karya budaya populer, termasuk film layar lebar terkenal seperti Green Street Hooligans dan The Firm.

Kerusuhan Upton Park 2009: Bukti Rivalitas Belum Padam

Banyak pihak mengira modernisasi sepak bola, peningkatan sistem keamanan stadion, dan pemasangan kamera CCTV telah meredam rivalitas purba ini. Namun, anggapan tersebut keliru besar ketika takdir mempertemukan mereka di ajang Piala Liga (Carling Cup) pada Agustus 2009 di Upton Park (stadion lama West Ham).

Laga tersebut menjadi saksi invasi lapangan massal oleh suporter, bentrokan hebat di luar stadion, dan lemparan suar. Kepolisian London bahkan harus mengerahkan ratusan personel huru-hara demi mengendalikan situasi. Peristiwa ini menjadi pengingat bagi publik sepak bola Inggris bahwa bara api kebencian antara Millwall dan West Ham tidak pernah benar-benar padam—ia hanya tertidur menunggu jadwal pertandingan tiba.

Hubungan Geografis Baru dan Masa Depan Rivalitas

Seiring berjalannya waktu, markas kedua tim sempat mengalami perpindahan secara geografis:

  • Millwall pindah ke selatan Sungai Thames dan menetap di stadion The Den (Bermondsey) sejak 1993.
  • West Ham meninggalkan Boleyn Ground/Upton Park dan menempati Stadion Olimpiade London (Stratford) sejak 2016.

Walau kini posisi mereka terpisah sekitar 4 mil dengan batasan aliran Sungai Thames, tensi di antara kedua kelompok suporter tetap berada di titik tertinggi.

Menariknya, setelah belasan tahun tidak bertemu dalam laga kompetitif sejak pertemuan terakhir mereka pada Februari 2012 silam, takdir kembali mempertemukan keduanya. Jadwal kompetisi memastikan bahwa Millwall FC dan West Ham United berada di divisi yang sama untuk musim ini. Pertemuan berikutnya telah dijadwalkan di mana Millwall akan menjamu West Ham di The Den, disusul laga tandang ke Stadion Olimpiade London.

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Sepak Bola

Rivalitas Millwall vs West Ham United adalah potret nyata bagaimana sejarah sosial, ekonomi, dan politik masa lalu membentuk identitas sebuah klub sepak bola. Bagi pendukung kedua belah pihak, laga ini bukan tentang mengejar trofi atau poin di klasemen, melainkan tentang mempertahankan harga diri garis keturunan, menghormati sejarah para pendahulu di pelabuhan, dan membuktikan siapa penguasa sejati dari identitas kelas pekerja London.

Selama roda kompetisi sepak bola Inggris berputar dan Sungai Thames tetap mengalir membelah kota London, kisah persaingan sengit antara Millwall dan rival terbesarnya ini akan terus berlanjut dan ditulis dengan tinta penuh gairah.

Penulis: W.S

Post Comment