Sekolapedia – 15 Juli 2026 | Pesta sepak bola dunia tengah berada di persimpangan jalan sejarah. Sejak keputusan besar diambil pada 2017 silam, FIFA ingin Piala Dunia diikuti 48 peserta, sebuah terobosan yang kini tengah dirasakan dampaknya dalam gelaran Piala Dunia 2026 di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat. Format ini bukan sekadar angka, melainkan strategi untuk meratakan kesempatan bagi negara-negara yang selama ini sulit menembus panggung global.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, secara terbuka menyatakan kepuasannya terhadap format baru ini. Baginya, langkah FIFA ingin Piala Dunia diikuti 48 peserta telah terbukti sukses, terutama dalam mendongkrak performa wakil dari benua Afrika. Data menunjukkan sembilan dari sepuluh wakil Afrika berhasil menembus babak gugur pada edisi 2026, sebuah peningkatan drastis dibandingkan era 32 tim. Keberhasilan ini menjadi landasan kuat bagi FIFA untuk terus mengevaluasi masa depan turnamen.
Namun, di tengah kesuksesan tersebut, sebuah wacana baru muncul yang memicu perdebatan sengit di tingkat global. FIFA kini tengah mengkaji kemungkinan penambahan peserta menjadi 64 negara untuk Piala Dunia 2030. Usulan yang awalnya diajukan oleh konfederasi sepak bola Amerika Selatan (Conmebol) pada April 2025 ini, dipandang sebagai langkah logis untuk memperluas mimpi setiap negara. Meski demikian, rencana ini tidak berjalan mulus karena mendapat penolakan keras dari UEFA, AFC, dan Concacaf yang mengkhawatirkan penurunan kualitas pertandingan dan kerumitan sistem kualifikasi.
Legenda sepak bola asal Portugal, Luis Figo, turut memberikan pandangannya. Menurutnya, format yang saat ini diterapkan memang memberikan kesempatan lebih luas, namun kualitas pertandingan tetap menjadi aspek krusial yang harus terus dipantau. Figo menekankan bahwa setelah Piala Dunia 2026 usai, evaluasi menyeluruh harus dilakukan sebelum mengambil keputusan drastis berikutnya. Bagaimanapun, komitmen FIFA ingin Piala Dunia diikuti 48 peserta saat ini menjadi standar baru yang sedang diuji ketahanannya.
Bagi negara seperti Indonesia, wacana penambahan kuota ini tentu menjadi angin segar. Dengan format 64 peserta, secara teoritis peluang skuad Garuda untuk melaju ke putaran final akan semakin terbuka lebar, mengingat kuota untuk konfederasi Asia (AFC) kemungkinan besar akan bertambah. Meski demikian, peningkatan kuota bukan berarti tiket otomatis. Timnas Indonesia tetap harus membuktikan kualitasnya di atas lapangan melalui jalur kualifikasi yang ketat.
Pada akhirnya, perdebatan mengenai penambahan peserta ini merupakan cerminan dari ambisi FIFA untuk menjadikan sepak bola sebagai olahraga yang benar-benar inklusif. Meskipun terdapat pro dan kontra, sejarah mencatat bahwa transisi dari 32 ke 48 tim telah mengubah peta persaingan global secara signifikan. Apakah FIFA ingin Piala Dunia diikuti 48 peserta selamanya, atau justru akan melompat ke angka 64, keputusan akhir akan sangat bergantung pada hasil evaluasi mendalam setelah turnamen 2026 berakhir. Fokus utama tetap pada bagaimana menjaga keseimbangan antara kuantitas peserta dan kualitas hiburan sepak bola yang disajikan bagi penggemar di seluruh dunia.



Post Comment