Daftar Isi
Setiap era sepak bola selalu melahirkan satu kelompok pemain berbakat yang memicu mimpi besar bagi sebuah negara. Bagi Belgia, kelompok itu dikenal sebagai “Generasi Emas” (The Golden Generation). Selama lebih dari satu dekade, nama-nama seperti Eden Hazard, Kevin De Bruyne, Romelu Lukaku, Thibaut Courtois, dan Axel Witsel menghiasi papan atas sepak bola dunia dan membawa The Red Devils mendominasi peringkat satu FIFA.
Di antara barisan bintang tersebut, Axel Witsel mungkin bukan pemain yang paling sering menghiasi tajuk utama berita lewat gol-gol akrobatik atau asis jenius. Namun, ia adalah jangkar, penyeimbang, dan pondasi yang membuat para seniman menyerang Belgia bisa berkreasi dengan bebas. Kilas balik karier Axel Witsel bersama tim nasional Belgia bukan hanya cerita tentang statistik pribadi, melainkan catatan sejarah pasang surutnya sebuah generasi terbaik yang pernah dimiliki negeri cokelat tersebut.
Awal Mula Sang Jenderal Kribo di Pentas Internasional
Karier internasional Axel Witsel dimulai pada musim semi tahun 2008. Di bawah asuhan pelatih René Vandereycken, Witsel yang baru berusia 19 tahun menandai debutnya dengan cara yang sangat ikonik. Masuk sebagai pemain pengganti dalam laga persahabatan melawan Maroko pada 26 Maret 2008, Witsel hanya membutuhkan waktu beberapa menit di lapangan untuk mencetak gol pertamanya bagi Belgia melalui sundulan kepala.
Sejak momen debut tersebut, pemain yang identik dengan gaya rambut kribo volumetriknya ini langsung mengunci satu tempat di lini tengah. Bersama Marouane Fellaini dan Steven Defour, Witsel menjadi bagian dari gelombang pertama restrukturisasi sepak bola Belgia yang berfokus pada kekuatan fisik, kedisiplinan taktis, dan kemampuan teknik yang solid.
Puncak Kejayaan: Medali Perunggu di Rusia 2018
Puncak dari narasi Generasi Emas Belgia terjadi pada gelaran Piala Dunia 2018 di Rusia. Di bawah komando taktis Roberto MartÃnez, Belgia tampil sebagai tim yang paling menghibur sekaligus mematikan. Di turnamen inilah peran Axel Witsel sebagai holding midfielder berada di level tertingginya.
Lukaku
Hazard De Bruyne
Chadli Meunier
Witsel Fellaini
Vertonghen Alderweireld Kompany
Courtois
Ketika Kevin De Bruyne dan Eden Hazard diberi kebebasan untuk mengacak-acak pertahanan lawan, Witsel adalah orang pertama yang memotong serangan balik musuh. Duetnya bersama Marouane Fellaini atau Mousa Dembélé di lini tengah memberikan proteksi luar biasa bagi trio bek sejajar Jan Vertonghen, Toby Alderweireld, dan Vincent Kompany.
Kemenangan bersejarah 2-1 atas Brasil di babak perempat final menjadi bukti sahih betapa disiplinnya Witsel dalam menutup ruang gerak Neymar dan Philippe Coutinho. Meski langkah mereka dihentikan Prancis di semifinal, keberhasilan merengkuh peringkat ketiga setelah mengalahkan Inggris adalah pencapaian tertinggi dalam sejarah sepak bola Belgia, dan Witsel adalah detak jantung dari kesuksesan tersebut.
Statistik dan Konsistensi yang Mengagumkan
Salah satu atribut terbesar Axel Witsel sepanjang karier internasionalnya adalah konsistensi dan ketahanan fisik. Ia adalah tipe pemain yang sangat jarang absen akibat cedera parah, kecuali cedera tendon Achilles yang sempat menimpanya menjelang Euro 2020—yang secara ajaib berhasil ia pulihkan dalam waktu singkat demi membela negaranya.
Catatan Angka Axel Witsel bersama The Red Devils:
- Total Caps: Lebih dari 130 Pertandingan
- Debut: 26 Maret 2008 (vs Maroko)
- Turnamen Mayor yang Diikuti: Piala Dunia (2014, 2018, 2022), UEFA Euro (2016, 2020, 2024)
- Gelar Individu: Masuk ke dalam jajaran eksklusif pemain Belgia dengan caps terbanyak sepanjang sejarah bersama Jan Vertonghen, Toby Alderweireld, dan Eden Hazard.
Witsel dikenal memiliki persentase akurasi umpan yang sangat tinggi, sering kali mencapai di atas 90% di setiap pertandingan. Ia tidak mencari umpan-umpan berisiko tinggi; tugas utamanya adalah mengalirkan bola dengan aman dari lini belakang ke lini serang, menjaga ritme permainan, dan memastikan tim tidak kehilangan penguasaan bola di area krusial.
Penurunan dan Akhir dari Sebuah Era
Setiap masa kejayaan pasti menemui ujungnya. Bagi Generasi Emas Belgia, tanda-tanda keretakan mulai terlihat jelas pada Piala Dunia 2022 di Qatar. Skuad yang mulai dimakan usia gagal melewati babak penyisihan grup setelah kalah bersaing dengan Maroko dan Kroasia. Kritik tajam mulai mengalir, dan generasi yang dulunya dipuja kini dianggap sudah terlalu lambat untuk bersaing dengan sepak bola modern yang mengandalkan intensitas pressing tinggi.
Keputusan Witsel untuk pensiun dari panggung internasional sempat mengemuka setelah turnamen di Qatar tersebut, mengikuti jejak Eden Hazard. Namun, dedikasinya yang tinggi membuat ia sempat kembali dipanggil untuk memberikan pengalaman di ruang ganti dalam masa transisi di bawah pelatih baru, Domenico Tedesco, menjelang Euro 2024.
Bagaimanapun, Euro 2024 dan rangkaian kualifikasi menuju turnamen setelahnya menjadi babak penutup yang emosional. Mundurnya para pilar senior satu per satu secara resmi menandai runtuhnya sisa-sisa dinasti Generasi Emas. Witsel meninggalkan tim nasional bukan lagi sebagai pemain muda yang meledak-ledak, melainkan sebagai mentor bagi generasi baru seperti Amadou Onana dan Arthur Vermeeren yang siap meneruskan tongkat estafet.
Warisan (Legacy) Axel Witsel untuk Sepak Bola Belgia
Meskipun Generasi Emas Belgia sering kali dikritik karena gagal mempersembahkan trofi juara (Euro atau Piala Dunia) ke lemari piala mereka, warisan yang mereka tinggalkan sangat masif. Mereka mengubah wajah Belgia dari tim semenjana Eropa menjadi kekuatan global yang ditakuti dan dihormati.
Axel Witsel akan selalu dikenang sebagai perwujudan dari profesionalisme tertinggi. Ia adalah pemain yang rela mengorbankan sorotan lampu panggung demi keseimbangan tim. Tanpa ego besar, selalu siap dipasang di posisi mana pun—bahkan bertransformasi menjadi bek tengah di usia senjanya—Witsel adalah teladan bagaimana seorang prajurit sepak bola bersikap di atas lapangan hijau.
Ketika lembaran sejarah sepak bola Belgia ditulis kembali di masa depan, nama Axel Witsel akan terukir dengan tinta emas sebagai sang jenderal penyeimbang, fondasi dari era paling berbakat yang pernah menghibur dunia. Terima kasih, Axel!
penulis: Anisa Ramaadani
Post Comment