Sekolapedia – 01 Juli 2026 | Konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas setelah Iran mengungkap dampak besar yang ditimbulkan blokade AS terhadap aktivitas ekspor minyak negaranya. Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut negaranya sempat tidak mampu mengekspor minyak sama sekali selama sekitar dua bulan akibat pembatasan yang diberlakukan Washington terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Menurut Ghalibaf, kondisi tersebut berubah setelah blokade dicabut pada Juni 2026. Sejak saat itu, Iran mengklaim telah mengekspor lebih dari 40 juta barel minyak, menandai pemulihan signifikan pada sektor energi yang menjadi salah satu sumber utama pendapatan negara tersebut.
Sementara itu, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengatakan AS menginginkan komitmen yang kuat dari Iran serta dapat diverifikasi untuk melakukan denuklirisasi secara penuh di negara itu. Vance menjelaskan bahwa AS akan berupaya agar hal tersebut dapat dicapai.
Pada 18 Juni 2026, Iran dan Amerika Serikat telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang mengatur pengakhiran konflik militer yang dimulai sejak 28 Februari 2026. Dokumen tersebut juga menetapkan tenggat waktu bagi AS untuk mencabut blokade angkatan lautnya terhadap pelabuhan Iran, dan Iran dapat memulihkan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengungkap dua skenario yang menurutnya bisa memicu kembali pecahnya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Salah satu skenario terjadi jika Presiden AS Donald Trump memutuskan mengakhiri jalur diplomasi dan kembali melancarkan serangan terhadap Iran.
Kedua negara memiliki waktu 60 hari sampai perjanjian penghentian permusuhan dalam nota kesepahaman (MoU) berakhir, meski masih bisa diperpanjang. Skenario kedua, lanjut Katz, apabila Iran lebih dulu menyerang Israel. Langkah tersebut akan memicu perang baru yang bisa menyeret AS lagi ke dalam konflik di kawasan Timur Tengah.
Nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS (USD) berpotensi kembali melemah pada perdagangan Rabu (1/7), usai ditutup menguat 55 poin menjadi Rp 17.906 per USD pada perdagangan Selasa (30/6). Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen negatif dari luar negeri.
Khususnya pembicaraan perdamaian perang antara Amerika Serikat dan Iran. Untuk perdagangan (1/7) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.900-Rp 17.950. Ibrahim mengatakan, para ahli Iran dan Oman akan memulai pembicaraan tentang pendefinisian ulang jalur transit melalui Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang.
Iran dan Oman dilaporkan meneruskan rancangan mengenakan bayaran terhadap kapal yang melalui Selat Hormuz walaupun mendapat bantahan terbuka daripada Amerika Syarikat. Menurut seorang pegawai Iran dan beberapa diplomat yang mengetahui rundingan itu, Oman telah menyerahkan cadangan rasmi kepada Amerika dan sekutu Barat mengenai pelan mengenakan bayaran perkhidmatan kepada syarikat perkapalan yang menggunakan laluan strategik berkenaan.
Sebelum perang Iran-Israel tercetus pada 28 Februari lalu, Selat Hormuz merupakan laluan perkapalan antarabangsa bebas antara Iran dan Oman yang digunakan untuk penghantaran minyak dan gas dari Teluk ke seluruh dunia tanpa sebarang caj.
Namun ketika konflik memuncak, Iran melaksanakan sekatan de facto ke atas laluan itu sehingga menjejaskan perdagangan global dan melonjakkan harga tenaga dunia. Sejak itu, pegawai Iran berulang kali menyatakan hasrat untuk mengenakan bayaran terhadap penggunaan laluan strategik berkenaan.
Diplomat serantau berkata cadangan Oman itu mengambil contoh daripada beberapa model antarabangsa, di mana sumbangan sukarela digunakan bagi menampung kos keselamatan pelayaran, pemantauan laluan maritim dan tindak balas terhadap kecemasan di laut. Bagaimanapun, masih belum jelas sama ada bayaran itu akan bersifat sukarela atau wajib.
Seorang diplomat berkata cadangan Oman menyebut “bayaran sukarela”, manakala pegawai Iran menegaskan bayaran itu akan diwajibkan. Timbalan Menteri Luar Iran, Encik Kazem Gharibabadi, berkata Teheran mahu mencapai persetujuan bersama Oman mengenai pengurusan Selat Hormuz.
Keutamaan kami ialah mencapai persefahaman dengan Oman. Tetapi jika tiada rangka kerja bersama dapat diwujudkan, Iran akan bergerak sendiri. Pasar mengamati hasil potensi pembicaraan AS-Iran di Doha di tengah serangan rudal akhir pekan dari kedua belah pihak yang menguji gencatan senjata.
Pasar juga tengah menunggu data neraca perdagangan di bulan Mei, di mana sebelumnya pada April lalu defisit transaksi berjalan dan anggaran yang melebar. Surplus perdagangan yang menyusut dinilai akan memberikan tekanan terhadap defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada tahun ini.
Kesimpulan, konflik antara Iran dan AS kembali memanas setelah Iran mengungkap dampak besar yang ditimbulkan blokade AS terhadap aktivitas ekspor minyak negaranya. Iran mengklaim telah mengekspor lebih dari 40 juta barel minyak setelah blokade dicabut. Sementara itu, AS menginginkan komitmen yang kuat dari Iran untuk melakukan denuklirisasi secara penuh di negara itu.
Post Comment