Kebijakan dan Program Kerja Bobby Nasution yang Paling Berdampak Bagi Masyarakat

Dalam mengukur keberhasilan seorang kepala daerah, indikator paling valid yang bisa digunakan adalah seberapa besar kebijakan yang dilahirkan mampu menyentuh dan mengubah kehidupan masyarakat ke arah yang lebih baik. Bagi Muhammad Bobby Afif Nasution, menahkodai kota metropolitan terbesar di luar Pulau Jawa memberikan ruang ujian sekaligus pembuktian yang nyata.

Sejak resmi menjabat, ia langsung tancap gas mengurai berbagai benang kusut yang menjadi masalah menahun. Mulai dari urusan kesehatan, tata kelola banjir, hingga digitalisasi ekonomi rakyat jelata. Lantas, apa saja kebijakan Bobby Nasution serta program kerja Bobby Nasution yang dinilai paling monumental dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat luas? Berikut ulasan lengkapnya.

1. Program Universal Health Coverage (UHC): Berobat Gratis Cukup Pakai KTP

Jika ditanya program apa yang paling dirasakan manfaatnya secara instan oleh masyarakat kelas bawah, jawabannya adalah program jaminan kesehatan gratis berbasis Universal Health Coverage (UHC) atau Jaminan Kesehatan Medan Berkah (JKMB).

Sebelum program ini diluncurkan, banyak warga kurang mampu yang takut berobat ke rumah sakit karena kendala biaya atau kerumitan administrasi BPJS Kesehatan yang menunggak.

🔖 Baca juga:
Kode Bank BCA Syariah vs BCA Konvensional 2026: Jangan Tertukar!
  • Solusi Nyata: Di bawah kebijakan Bobby Nasution, Pemerintah Kota mengalokasikan anggaran besar untuk mengintegrasikan data kependudukan dengan jaminan kesehatan.
  • Dampak Langsung: Kini, seluruh warga yang memiliki KTP setempat dapat mengakses layanan rawat inap dan rawat jalan di puluhan rumah sakit yang bekerja sama secara gratis, tanpa perlu khawatir dengan tunggakan iuran masa lalu. Kebijakan ini sukses memotong birokrasi kesehatan yang berbelit-belit dan menyelamatkan ribuan nyawa masyarakat rentan.

2. Pembenahan Infrastruktur Makro dan Pengendalian Banjir

Sebagai kota pesisir dengan topografi yang dilalui banyak sungai besar, masalah genangan air dan banjir rob telah menjadi “makanan sehari-hari” warga selama puluhan tahun. Sadar bahwa masalah ini melumpuhkan roda ekonomi, perbaikan infrastruktur menjadi salah satu prioritas tertinggi dalam program kerja Bobby Nasution.

Langkah-langkah taktis yang dieksekusi di lapangan meliputi:

  • Normalisasi dan Pengerukan Sungai/Drainase: Pembersihan parit-parit utama kota dan pengerukan sedimentasi sungai yang selama ini dibiarkan menyempit.
  • Pembangunan Kolam Retensi: Pembuatan waduk buatan di titik-titik rawan untuk menampung debit air hujan tinggi sebelum dialirkan ke pembuangan akhir.
  • Proyek Underpass dan Koridor Jalan: Guna mengurai kemacetan parah yang menyertai pertumbuhan kota, pembangunan jalan layang bawah tanah (underpass) digenjot di persimpangan-persimpangan padat.

Meskipun proses pembangunannya sempat memicu kemacetan sementara, hasil jangka panjangnya mulai terlihat dengan berkurangnya secara drastis titik genangan air pasca-hujan deras di berbagai kawasan vital.

3. Reformasi Birokrasi: Berantas Pungli di Tingkat Akar Rumput

Pelayanan publik yang lambat dan maraknya praktik pungutan liar (pungli) di masa lalu sering kali membuat masyarakat enggan berurusan dengan instansi pemerintahan. Bobby Nasution mendobrak kultur kerja lama ini dengan menerapkan reformasi birokrasi yang berbasis ketegasan dan transparansi.

Bobby kerap melakukan inspeksi mendadak (sidak) langsung ke kantor kelurahan, kecamatan, hingga dinas-dinas teknis. Ketika ditemukan adanya oknum aparat yang mempersulit izin usaha masyarakat atau meminta imbalan dalam pengurusan dokumen kependudukan, tindakan tegas berupa pencopotan jabatan langsung dilakukan di tempat.

Dampaknya bagi masyarakat: Kultur melayani (civic service) kembali tumbuh. Pengurusan dokumen seperti Akta Kelahiran, Kartu Keluarga, dan perizinan usaha kini menjadi jauh lebih cepat, transparan, dan bersih dari biaya siluman.

4. Digitalisasi dan Pemberdayaan UMKM Guna Dongkrak Ekonomi Rakyat

Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) adalah tulang punggung ekonomi daerah. Guna memastikan para pelaku usaha lokal tidak digilas oleh perkembangan zaman, kebijakan Bobby Nasution sangat berfokus pada modernisasi ekosistem UMKM.

Melalui program pendampingan, ribuan pelaku usaha rumahan dibekali pelatihan literasi digital dan akses pembiayaan yang mudah. Salah satu terobosan konkretnya adalah kewajiban digitalisasi pembayaran (menggunakan QRIS) di sentra-sentra kuliner dan pasar tradisional, serta melibatkan produk-produk UMKM lokal ke dalam sistem e-Katalog pengadaan barang dan jasa pemerintah daerah.

Dengan masuknya UMKM ke e-Katalog, pemerintah daerah menjadi pembeli langsung produk-produk rakyat, mulai dari makanan kotak untuk rapat, cinderamata, hingga seragam dinas. Hal ini memberikan kepastian pasar dan menaikkan kelas ekonomi para pengrajin lokal secara signifikan.

5. Revitalisasi Ruang Publik dan Penataan Heritage

Kota yang maju tidak hanya dinilai dari gedung pencakar langitnya, tetapi juga dari ketersediaan ruang publik yang inklusif, aman, dan nyaman bagi warganya. Revitalisasi Lapangan Merdeka, Stadion Teladan, dan kawasan Kota Lama Kesawan adalah bukti keseriusan dalam menata estetika kota sekaligus menghidupkan ruang sosial warga.

Kawasan Kesawan, misalnya, ditata ulang menjadi kawasan ramah pejalan kaki yang menonjolkan arsitektur sejarah kuno (heritage). Dampaknya luar biasa: kawasan ini kini bertransformasi menjadi pusat perputaran ekonomi baru, destinasi wisata andalan, sekaligus wadah berkumpulnya komunitas kreatif anak muda untuk mengekspresikan diri secara positif.

Kesimpulan: Warisan Kebijakan yang Berkelanjutan

Secara keseluruhan, rangkaian kebijakan Bobby Nasution selama memimpin mencerminkan karakter kepemimpinan yang berani mengeksekusi (action-oriented). Ia tidak ragu mengambil keputusan populer yang menguras anggaran besar seperti program kesehatan gratis, ataupun keputusan berisiko tinggi seperti melakukan bongkar pasang pejabat demi membenahi pelayanan publik.

penulis:Anisa Ramadani

Post Comment